Label BPA Free Tidak Menjamin Botolmu Bebas Penyakit

Hampir sebagian perangkat kita sehari-hari dibuat dari berbagai bahan kimia. Beberapa di antaranya ada yang tidak baik untuk kesehatan. Salah satu bahan kimia tersebut adalah bisphenol-A (BPA). Salah satu hal penting yang harus diperhatikan terkait BPA ini adalah penggunaannya di perangkat makan kita, sebab kontaminasi zat itu bisa menyebabkan penyakit. Oleh karenanya, pastikan semua perangkat makan kita memiliki label BPA free.

Bisphenol-A digunakan untuk membuat wadah atau perangkat makan kita kuat dan tidak mudah bocor. Namun, BPA bisa mengkontaminasi makanan atau minuman yang disimpan di dalam wadah tersebut. Ketika BPA masuk ke tubuh manusia, maka berbagai masalah kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang dapat terjadi, baik pada orang dewasa, anak-anak, bahkan janin.

Akan tetapi bahaya tidak berhenti sampai di situ saja. Meski wadah atau perangkat makan dan minum kita memiliki label BPA free, kemungkinan makanan atau minuman terkontaminasi zat berbahaya masih tetap ada. Beberapa kebiasaan di bawah inilah penyebab-penyebabnya:

  1. Tidak Rajin Mencuci Botol

Walaupun hanya diisi air putih, biasakan untuk mencuci botol minum Anda setidaknya sehari sekali. Sama seperti gelas yang kita pakai untuk minum, pinggiran botol minum yang tidak dibersihkan bisa menjadi ladang bakteri. Bagian dalam botol yang jarang dibersihkan juga akan ditumbuhi jamur, sehingga akan berdampak pada kehigienisan bahkan rasa dari minuman Anda. Anda bisa saja terkena diare karena kebiasaan buruk yang satu ini.

  • Mengisi Air Minum dalam Keadaan Basah

Ketika kita telah rajin mencuci wadah makanan dan minuman sebaiknya pastikan mereka telah kering secara sempurna sebelum menggunakannya lagi. Sebab botol minum atau tempat makan yang masih basah bisa membuat bakteri dan jamur tumbuh. Hal ini berkaitan dengan sifat bakteri dan jamur yang mudah tumbuh dalam keadaan lembap. Bagian penutup botol merupakan tempat paling favorit untuk bakteri berkembang biak, saat botol minum dipakai dalam keadaan lembap atau basah.

  • Tidak Mencuci Botol dengan Benar

Selain memiliki label BPA free, perawatan wadah itu sendiri memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan Anda. Mencuci wadah makan atau minuman hanya dengan air tak menjamin bakteri atau jamur mati seketika. Menurut para ahli, cara terbaik untuk membersihkan botol minum, terutama bagian dalamnya adalah dengan menggunakan campuran air panas dengan baking soda atau cuka. Hal ini akan mengangkat jamur, serta menghilangkan bau dari botol minum. Setelahnya, barulah bersihkan kembali dengan sabun dan bilas hingga bersih. Jangan lupa gunakan sikat pembersih, untuk menjangkau bagian yang susah dibersihkan dengan tanganmu.

  • Tidak Teliti Sewaktu Mengeringkan

Botol minum biasanya terdiri dari beberapa bagian, yang paling umum tentu saja bagian badan dan penutup botolnya. Setelah kamu mencuci bersih tiap bagiannya, botol minum jangan lansung dipasang, kemudian dikeringkan. Bukannya kering, sisa air pembersih pada bagian botol minum malah akan menumpuk. Biarkan masing-masing bagian botol kering terlebih dahulu, sebelum kamu memasangkannya kembali.

  • Bau dan Perubahan Warna Tanda untuk Segera Cari Pengganti

Seorang ahli kesehatan menyebutkan bahwa perubahan warna, rasa, hingga bentuk seperti retakan pada botol minum, hanya akan membuat meningkatnya jumlah bakteri di area tersebut.

Artinya, jika wadah makanan atau minuman Anda telah berbau dan melihatkan perubahan warna atau bentuk, segeralah beralih dan cari pengganti. Jangan gunakan wadah yang telah usang. Sebab, selain akan “merusak” rasa dari makanan atau minuman Anda, tidak ada jaminan pula isi di dalamnya akan bebas dari zat-zat berbahaya.

***

Itulah beberapa kebiasaan buruk yang bisa juga membuat wadah tempat makan atau minuman Anda menjadi sebab dari memburuknya kondisi kesehatan. Jadi, jangan hanya terpaku dengan label BPA free, perawatan yang baik dan benar juga bisa menjadi upaya Anda terhindar dari berbagai penyakit.

Hal Penting bagi Ibu Menyusui di Tengah Pandemi Corona

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) masih terus berlangsung hingga saat ini. Tragedi itu melumpuhkan beberapa sendi kehidupan sekaligus mengubah banyak tatanan yang sudah mapan. Banyak kelompok orang berada di dalam situasi dilematis, salah satunya ibu menyusui.

Virus corona menyebar dan dapat menginfeksi seseorang melalui droplet atau percikan cairan dari mulut maupun hidung. Oleh karenanya, phsycal distancing atau pembatasan fisik (menjaga jarak) menjadi prosedur yang ditetapkan untuk memutus rantai persebaran virus tersebut. Masalahnya, bagaimana ibu bisa menyusui bayinya jika harus menjaga jarak. Kondisi itu bertambah rumit ketika sang ibu, yang tengah menyusui itu, masuk ke dalam daftar pasien covid-19.

Untuk mengatasi itu, banyak organisasi kesehatan masyarakat merekomendasikan ibu dan bayi tetap bersama, kendati si ibu positif corona. Pasalnya, biar bagaimanapun si bayi harus tetap mendapatkan asupan ASI dalam masa-masa menyusui tersebut untuk menunjang kehidupannya.

Situasi ini berhasil memaksa organisasi kesehatan untuk membuat prosedur untuk mengatasi dilema ini. Ada yang menyarankan pasien covid-19 yang berstatus sebagai ibu menyusui dipisahkan dengan pasien lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Tujuannya agar ibu masih dapat menyusui bayinya tanpa mengorbankan kesehatan si bayi dari orang-orang selain ibunya.

Lain lagi pandangan dari Academy of Breastfeeding Medicine. Alison Stuebe, MD, sang presiden memengungkapkan bahwa ada banyak risiko yang bakal diterima bayi jika ia harus dipisahkan dari ibunya.

Dalam komentarnya, Dr. Stuebe, mencatat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemisahan antara bayi dan ibu dengan dugaan atau konfirmasi Covid-19 bisa “menyelamatkan” si bayi.

Memang pemisahan ini bisa meminimalisir risiko penularan virus dari ibu ke bayi selama tinggal di rumah sakit. Namun itu memiliki potensi konsekuensi negatif bagi ibu dan bayi, demikian komentar yang diterbitkan dalam Breastfeeding Medicine, jurnal resmi dari Academy of Breastfeeding Medicine.

Dr. Stuebe menguraikan beberapa risiko memisahkan ibu dan bayi di rumah sakit, yang mengganggu pemberian ASI dan kontak kulit ke kulit selama jam dan hari-hari kritis setelah kelahiran. Sebagai contoh, bayi yang kekurangan kontak kulit dengan ibu mereka cenderung memiliki detak jantung dan pernapasan yang lebih tinggi dan kadar glukosa yang lebih rendah.

Perpisahan itu juga bisa membuat mental dan kondisi psikologis ibu tertekan, yang mana bisa membuatnya lebih sulit untuk melawan infeksi virus corona. Selain itu, pemisahan mengganggu pemberian ASI kepada bayi, yang penting untuk perkembangan sistem kekebalan bayi. Pemisahan juga mengganggu pemberian ASI, yang menempatkan bayi pada peningkatan risiko infeksi pernapasan berat, termasuk pneumonia dan Covid-19.

  • Prosedur Pemberian ASI oleh Ibu Menyusui Terduga atau Positif Corona

Oleh karena pentingnya aktivitas menyusui bagi bayi maupun si ibu sendiri, kendati tengah dalam bayang-bayang virus corona, berikut beberapa prosedur yang disarankan untuk meminimalisir terjadinya penularan:

  • Untuk ibu yang memiliki gejala tapi masih bisa menyusui, tindakan pencegahan yang dimaksud adalah memakai masker ketika berada di sekitar anak (termasuk ketika sedang menyusui);
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan anak (termasuk menyusui);
  • Membersihkan/memberi desinfektan pada permukaan yang terkontaminasi – sebagaimana seharusnya dilakukan untuk tiap kali seseorang yang telah dikonfirmasi atau dicurigai terkena covid-19;
  • Jika kondisi ibu terlalu payah, maka disarankan untuk memerah ASI dan memberikannya ke anak melalui cangkir dan/atau sendok bersih – dan terus melakukan metode pencegahan penularan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

***

Itulah kiranya beberapa hal penting yang dapat diketahui menganai aktivitas ibu menyusui di tengah pandemic virus corona. Situasi ini memang berat dan amat dilematis, tetapi dengan prosedur yang benar dan aman, kemungkinan terjadinya penularan pada bayi pun bisa diminimalisir sehingga bayi tetap mendapatkan nutrisi dari sang ibu, dan sebaliknya, ibu tetap dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,

Langkah Benar Merias Alis dengan Tint Eyebrow

Penggunaan tint eyebrow bisa menjadi jawaban bagi Anda yang ingin selalu tampil dengan riasan sempurna setiap waktu, namun tidak memiliki banyak waktu untuk make up. Dalam make up sendiri, pelukisan alis menjadi bagian yang memakan waktu dan membutuhkan konsentrasi tinggi.  Tint eyebrow bisa menjadi solusi karena riasan ini bisa bertahan di wajah Anda hingga berhari-hari. Anda pun bisa menghemat waktu berias karena tidak perlu lagi banyak menghabiskan waktu untuk melukis alis yang sesuai harapan.

Namun tetap harus diingat, untuk mendapatkan hasil maksimal dari penggunaan tint eyebrow, baik dari kualitas gambar sampai ketahanannya, Anda harus menggunakannya secara tepat. Langkah yang salah dalam memakai tint eyebrow hanya akan membuat Anda kecewa dan terpaksa mengulang pelukisan alis dari waktu ke waktu, yang tentunya memakan waktu Anda.

Supaya tidak demikian, ikuti langkah-langkah yang benar dalam merias alis dengan tint eyebrow seperti di bawah ini ya. Langkah yang benar bisa menghasilkan gambar alis mata yang meningkatkan kepercayaan diri Anda.

Persiapkan peralatan yang dibutuhakn

Anda tidak bisa melukis alis jika tidak memiliki alat yang dibutuhkan. Mula-mula peralatan untuk melakukan penatoan pada alis biasanya berupa paket pewarnaan alis, mulai dari pensil untuk menggambar sampai tinta untuk melukis serta tidak ketinggalan wadahnya. Tinta yang ada pada paket tersebut juga mesti Anda encerkan terlebih dahulu guna bisa membuat gambaran alis yang terlihat natural.

Namun saat ini, sudah banyak peralatan tint eyebrow yang simpel dari berbagai merek kecantikan dunia. Anda tidak perlu lagi menyiapkan pensil alis tersendiri ataupun mencampurkan tinta untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Anda hanya perlu membeli tint eyebrow dengan tekstur, model, dan warna sesuai keinginan.

Pastikan wajah dalam keadaan bersih

Sebelum mulai menggambar tato sementara untuk alis mata Anda, pastikan terlebih dahulu wajah Anda sudah dalam keadaan bersih. Jangan sampai masih ada bekas-bekas make up di wajah, apalagi di area mata.

Kulit wajah yang sudah bersih akan mempermudah pelukisan alis dengan tint eyebrow. Hasilnya juga akna lebih baik. Sebaliknya ketika melukis alis dengan wajah yang masih kotor karena riasan atau debu, risiko iritasi sampai masalah kulit lainnya siap mengancam.

Tambahkan pelembap di area mata

Tint eyebrow cenderung membuat area kulit menjadi kulit. Guna hal tersebut terjadi pada area mata Anda, baiknya diantisipasi terlebih dahulu dengan menambahkan pelembap pada sekitar alis Anda.

Untuk melembapkan area mata, Anda bisa menggunakan petroleum jelly atau lipbalm sebagai jalan pintas. Pastikan area lengkungan alis terlembapi dengan sempurna untuk menjaga kesehatan kulit Anda.

Lukis dari dalam ke luar

Kini Anda bisa memulai untuk melukis alis Anda sesuai harapan. Namun, untuk menggambar alis secara sempurna, Anda juga perlu trik. Trik tersebut guna membuat lukisan alis terlihat rapi dan natural.

Baiknya Anda menerapkan prinsip melukis alis dari bagian dalam ke luar, jangan sebaliknya. Pelukisan dari alis bagian dalam ke alis bagian luar akan membuat gambar alis tebal di bagian tengah dan mulai memudar di sudut alis. Ini membuat lukisan alis terlihat natural, layaknya alis pada umumnya.

Beri waktu tunggu dan bersihkan

Setelah alis terambar dengan baik, Anda mesti menunggu sekitar 15 menit untuk bisa melihat hasil akhirnya. Selamat 15 menit tersebut tinta akan menyerap dan bisa saja membuat tampilan gambar sedikit berubah dibandingkan saat Anda baru menyelesaikan proses rias.

Jika sudah puas dengan hasil akhirnya, langkah terakhir yang perlu Anda lakukan adalah membersihkan bagian-bagian sisi alis. Soalnya ketika menggambar tadi, sangat mungkin ada coretan kecil yang tidak sesuai dengan jalur alis Anda.

***

Tidak sulit bukan melukis alis dengan tint eyebrow? Langkah melukis alis dengan tint eyebrow sebenarnya tidak berbeda jauh dengan penggambaran alis pada make up sehari-hari. Namun, dampak ke depannya sungguh berbeda karena Anda tidak perlu capek-capek melakukan touch up atau pelukisan ulang setiap hari.

Mengapa Analisa Gas Darah Perlu Dilakukan?

Tes gas darah, atau juga disebut dengan analisa gas darah, memiliki tujuan untuk mengukur kadar oksigen dan karbondioksida di dalam darah. Selain itu, tes ini juga dapat membantu mengukur kadar pH dan fungsi paru-paru. Dokter sering menggunakan tes gas darah pada situasi kegawatdaruratan untuk membantu mendiagnosa penyebab kesulitan bernapas pada pasien. Artikel ini akan membahas tujuan analisa gas darah serta risiko yang mungkin dapat ditembulkan setelah mendapatkan tindakan medis ini.

Tujuan tes gas darah

Setiap orang yang kesulitan bernapas atau memiliki gangguan kesehatan yang berhubungan dengan paru-paru akan mendapatkan analisa gas darah. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan membantu dokter untuk mengidentifikasi penyebab gejala yang ditimbulkan. Analisa gas darah dapat menunjukkan seberapa baik organ-organ tubuh seperti paru-paru, jantung, dan ginjal bekerja. Secara lebih spesifik, hasil dari analisa tersebut dapat membantu dokter untuk mendiagnosa masalah pernapasan dan paru-paru, memeriksa apakah perawatan penyakit paru-paru yang sedang dilakukan berfungsi efektif atau tidak, dan menentukan apakah seseorang memiliki pembuluh darah yang pecah, penyakit metabolisme, ataupun keracunan bahan kimia. Selain itu, dokter juga akan menggunakan analisa gas darah untuk memeriksa keseimbangan berbasis asam pada orang-orang yang memmiliki gangguan ginjal, menderita diabetes, dan sedang dalam masa pemulihan setelah mengalami overdosis obat-obatan.

Risiko tes gas darah

Sama halnya dengan tindakan medis lain, analisa gas darah memiliki risiko kesehatannya sendiri. Mengambil darah dari arteri dapat menyebabkan rasa sakit dibandingkan dengan mengambil darah dari pembuluh darah. Ini disebabkan karena pada arteri tubuh terdapat saraf sensitif yang terletak di bagian dalam tubuh. Rasa sakit atau ketidaknyamanan apapun akan bertahan selama beberapa menit setelah tes gas darah berlangsung. Beberapa orang mungkin juga akan merasa pusing atau mual saat dokter mengambil darah, terutama apabila orang tersebut merasa gugup. Untuk menghindari terjadinya lebam, seseoran dapat menekan dengan lembut bagian yang disuntik selama beberapa menit setelah dokter mencabut jarum suntik. Meskipun sangat jarang terjadi, ada kemungkinan jarum yang digunakan menyebabkan kerusakan atau menyumbat arteri. Selain itu, siapa saja yang baru mendapatkan analisa gas darah disarankan untuk menghindari mengangkat benda-benda berat setidaknya selama 1 hari untuk menghindari komplikasi ataupun cidera.

Tes tambahan selain analisa gas darah?

Untuk membuat diagnosa, dokter tidak hanya akan mengandalkan analisa gas darah. Dokter biasanya membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti tes urin untuk memeriksa fungsi kerja ginjal, pemindaian dada menggunakan sinar-X atau metode pencitraan lain untuk memeriksa paru-paru, dan tes-tes lain untuk mengukur volume paru-paru. Dokter juga akan meminta tes darah lanjutan untuk memeriksa jumlah sel darah seseorang dan memeriksa kadar sodium, kalium, bicarbonate, dan glukosa darah atau biasa disebut dengan gula darah.

Hasil tidak normal dari analisa gas darah dapat mengindikasikan bahwa kondisi kesehatan seseorang ataupun cidera mempengaruhi pernapasan seseorang. Saat membuat diagnosa, dokter akan mempertimbangkan hasil dari analisa gas darah dan tes lain dengan kesehatan seseorang secara keseluruhan. Hasil dari analisa gas darah dapat menunjukkan apakah paru-paru mendapatkan cukup oksigen atau tidak, apakah paru-paru mampu mengeluarkan karbondioksida atau tidak, dan apakah ginjal dapat bekerja dengan baik atau tidak. Usia, riwayat kesehatan, dan jenis kelamin memengaruhi hasil dari analisa gas darah. Hasil yang keluar dari angka yang normal belum tentu mengindikasikan adanya gangguan penyakit jantung, paru-paru, ataupun ginjal.