Alasan Logis di Balik Fenomena Electra Complex

Pernahkah Anda mendengar atau membaca sebuah legenda Yunani tentang sebuah peristiwa pembunuhan ibu oleh anak perempuannya? Syahdan, seorang putri dikerajaan Argos, Electra, melakukan misi balas dendam atas kematian ayahnya, Agamemnon. Electra dibantu sudaranya Orestes membunuh sang ibu, Clytemnestra dan pacarnya sekaligus, Aegisthus. Keduanya adalah orang di balik kematian ayahnya. Konon dari cerita itu, fenomena electra complex muncul.

Electra Complex hasil buah pikir Carl Gustav Jung dimengerti sebagai sebuah kondisi di mana anak perempuan memiliki ketertarikan lebih dan khusus kepada ayahnya. Ketertarikan itu, menurut Jung, bahkan juga dalam ranah seksual.

Lebih radikal, konsep electra complex ini dapat disebut sebagai sebuah kecemburuan anak perempuan terhadap ibunya. Mereka cenderung tidak suka kepada ibu lantaran merasa tersaingi dalam hal cinta dan kasih sayang ayah. Kondisi ini bisa berlanjut hingga si anak perempuan memiliki rasa ketakutan kehilangan rasa cinta dan kasih sayang dari sayang ayah.

Berbeda dengan oedipus complex, atau antitesis dari electra complex, fenomena “cinta” anak perempuan terhadap ayahnya ini lebih intens dan cenderung beranjak ke situasi yang tidak seharusnya terjadi.

Namun, konsep atau fenomena soal electra complex, termasuk oedepus complex, masih sering menuai perdebatan dan pro—kontra. Pasalnya, semuanya masih harus dibuktikan melalui berbagai macam penelitian dan kajian ilmiah lanjutan. Akan tetapi, mari kita berandai-andai, jika electra complex memang eksis, argumen logis apa saja sih yang bisa dijadikan sebagai sebuah pembenaran atas kondisi tersebut? Berikut di antaranya:

  • Laki-Laki Pertama dalam Hidup Anak Perempuan Adalah Ayah

Tak dapat dimungkiri jika laki-laki pertama bagi seorang anak perempuan adalah ayahnya sendiri, meskipun dia memiliki kakak laki-laki, misalnya. Sehingga itu membentuk anggapan seorang anak perempuan tentang lawan jenis berdasarkan apa yang dia lihat dari ayahnya.

Kondisi ini tak berlebihan jika mengatakan seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Belum lagi ditambah bahwa banyak orang yang mengamini dan tidak perlu mendebat argumen tersebut.

  • Peran Ayah Melindungi Anak Perempuannya

Secara umum, manusia memiliki naluri untuk melindungi, terlebih orang tua. Bukan bermaksud seksis, tetapi pada umumnya, seorang anak perempuan cenderung merasa aman dan nyaman di dekat sang ayah lantaran meyakini bahwa pria dewasa itu mampu melindunginya dari segala marabahaya.

Setali tiga uang, hampir dipastikan bahwa semua ayah akan melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya, termasuk anak perempuannya.

  • Anak Perempuan Cenderung Lebih Peka

Anak perempuan cenderung lebih ekspresif daripada laki-laki sehingga mereka selalu menunjukkan kasih sayang dan gerakan-gerakan yang menyenangkan bagi seorang ayah, seperti senyum atau sentuhan lembut.

  • Kemudahan Berkomunikasi

Secara statistik, 88 persen ibu mengaku memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara berbeda. Meski tidak tepat, mereka mengaku bahwa ikatan dengan anak laki-laki cenderung lebih mudah daripada dengan anak perempuan. Sebaliknya, seorang ayah cenderung lebih mudah berkomunikasi dengan anak perempuannya.

***

Selain beberapa poin di atas, penjelasan masuk akal lain mengenai fenomena electra complex dapat ditinjau dari peran sang ayah dalam masa pertumbuhan anak perempuannya. Dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan unik antara ayah dan anak perempuannya.

Suatu hal yang lumrah jika seorang ayah cenderung lebih dekat dan akrab dengan anak perempuan ketimbang terhadap anak lelakinya. Kebanyakan orang berpikir bahwa peran ayah sangat penting dalam membentuk anak laki-laki menjadi laki-laki dewasa. Namun, banyak juga orang yang gagal memahami pengaruh ayah terhadap anak perempuan mereka.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa peran ayah memiliki pengaruh yang lebih besar pada anak-anaknya daripada seorang ibu dalam hal pembentukan perilaku. Penelitian lain menunjukkan bahwa anak perempuan yang memiliki hubungan yang lebih baik dengan ayahnya cenderung memiliki banyak keuntungan pribadi, seperti hubungan romantis yang lebih sehat, perilaku yang lebih baik, peningkatan harga diri, citra tubuh yang positif, kemandirian, dan kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik.

Di sisi lain, tidak adanya figur ayah menjadi salah satu faktor paling umum bagi seorang anak perempuan untuk tumbuh secara introvert, berprasangka buruk terhadap lawan jenis, membuat keputusan terburu-buru, dan terlibat dalam hubungan yang tidak stabil.

Kedekatan ayah terhadap anak perempuannya sebenarnya adalah sesuatu yang bisa dan normal-normal saja. Masalahnya, electra complex seakan menjadi sebuah hal “luar biasa” lantaran definisi dan tafsiran-tafsirannya. Jadi, sebaiknya tetap jalankan apa-apanya sesuai koridor dan batasan-batasan yang ada, ya.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*