Disonansi Kognitif Mungkin Baik Untuk Anda

Istilah disonansi kognitif digunakan untuk menggambarkan ketidaknyamanan mental seseorang akibat memegang dua keyakinan, nilai, atau sikap yang saling bertentangan.

Seseorang dengan disonansi kognitif, cenderung mencari konsistensi dalam sikap dan persepsinya, sehingga konflik ini menyebabkan perasaan tidak nyaman.

Setiap orang pernah mengalami disonansi kognitif di level tertentu, tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa kondisi ini selalu mudah dikenali. Berikut beberapa tanda bahwa apa yang Anda rasakan mungkin terkait dengan disonansi kognitif:

  • Merasa tidak nyaman sebelum melakukan sesuatu atau mengambil keputusan
  • Mencoba untuk membenarkan keputusan yang telah Anda buat atau tindakan yang telah Anda ambil
  • Merasa malu tentang sesuatu yang telah Anda lakukan dan berusaha menyembunyikan tindakan Anda dari orang lain
  • Mengalami rasa bersalah atau penyesalan tentang sesuatu yang telah Anda lakukan di masa lalu
  • Melakukan sesuatu karena tekanan sosial atau ketakutan akan ketinggalan (FOMO), meskipun hal tersebut bukan sesuatu yang ingin Anda lakukan.

Contoh sederhana dari disonansi kognitif misalnya, ketika Anda merokok (perilaku) dan Anda tahu bahwa merokok menyebabkan kanker (kognisi), sehingga Anda berada dalam keadaan disonansi kognitif.

Meskipun banyak orang mungkin berpikir disonansi kognitif adalah hal yang buruk, sebenarnya hal itu membantu Anda tetap sehat dan bahagia secara mental.  

Karena disonansi kognitif mungkin membuat Anda merasa puas dengan pilihan Anda atau setidaknya membiarkan Anda membenarkan pilihan tersebut, terutama ketika hal tersebut tidak dapat dengan mudah Anda ubah. Sehingga menjadikan Anda berdamai dengan keputusan Anda.

Mengenal Represi, Mekanisme Pertahanan Manusia Melupakan Kenangan Buruk

mengenal mekanisme pertahanan manusia dalam melupakan kenangan buruk

Perlu diketahui bahwa setiap pengalaman hidup yang begitu menyakitkan dan ditekan sampai ke alam bawah sadar sehingga memunculkan perilaku tertentu. Dalam mekanisme pertahanan manusia, ini disebut jenis represi.

Mekanisme pertahanan manusia merupakan strategi ketika manusia menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman atau traumatis terus menerus. Sehingga dirinya akan berlindung dari kecemasan tersebut dengan cara mempertahankan dirinya. 

Salah satu jenis mekanisme pertahanan diri ini adalah represi. Menurut Sigmund Freud, tokoh yang pertama kali mengembangkan pemikiran mengenai mekanisme pertahanan diri ini, menyebut bahwa represi merupakan mekanisme pertahanan yang paling dasar. 

Seseorang akan mengubur perasaan tidak mengenakkan, cemas, ancaman, atau kenangan yang tidak baik tersebut dalam-dalam. Harapannya agar kenangan tersebut tidak muncul ke alam sadar sehingga dia bisa melupakannya secara keseluruhan.

Jenis-jenis Mekanisme Pertahanan Manusia

Sebelum membahas represi secara lebih dalam, ada baiknya untuk mengetahui apa saja jenis-jenis mekanisme pertahanan diri yang seringnya muncul dalam diri manusia, yaitu:

  • Denial

Menyangkal atau denial terhadap fakta yang sedang terjadi adalah pilihan untuk menghindari situasi yang menyakitkan bagi dirinya dan menutup akses pada situasi tersebut sehingga tidak berdampak pada dirinya.

  • Proyeksi

Seseorang sering memiliki asumsi terhadap orang lain. Sebagai pembenaran terhadap asumsi yang dia miliki tersebut, dia cenderung membalik pola pikirnya.

  • Represi

Seseorang akan memilih untuk menghindari kenangan, perasaan, atau hal yang membuatnya merasa tidak nyaman agar dia bisa melupakan semua perasaan tersebut.

  • Regresi

Saat memiliki pengalaman yang tidak disukai atau trauma, seseorang akan berusaha menyembunyikan realita tersebut. 

  • Pelampiasan

Sebagai contoh, seorang suami yang melampiaskan emosi terhadap rekan kerjanya kepada istri di rumah padahal target utama emosinya berbeda.

  • Sublimasi

Sublimasi adalah mekanisme pertahanan yang positif. Jadi, ketika seseorang memiliki emosi, dia akan melampiaskan pada aktivitas tertentu yang lebih aman.

  • Rasionalisasi

Seseorang merasa nyaman dengan pilihannya meskipun orang tersebut sadar bahwa dia juga melakukan kesalahan.

  • Formasi Reaksi

Kondisi ini ketika apa yang dirasakan oleh seseorang akan berbeda dengan apa yang dilakukannya.

  • Intelektualisasi

Ketika individu berada di fase berusaha, dia akan berupaya untuk meninggalkan semua emosi dan fokus pada fakta kuantitatif.

  • Kompartementalisasi

Sesuai dengan namanya, individu akan mengelompokkan aspek kehidupan dalam sektor independen. Tujuannya adalah untuk melindungi masing-masing elemen dalam kehidupannya.

Apakah Boleh Melakukan Represi dalam Kehidupan?

Kenangan masa lalu yang tidak mengenakkan memang membuat seseorang ingin melupakannya daripada diingat. Mencoba melupakan sesuatu yang membebani pikiran memang pilihan yang tidak begitu buruk. Akan tetapi, jika ini dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus juga tidak baik.

Sebenarnya, pengalaman traumatis ditekan ke alam bawah sadar  tidak akan berubah. Bahkan akan menciptakan kecemasan yang lebih besar hingga sulit dikendalikan. 

Seseorang yang berusaha melupakan kenangan traumatis tersebut justru jadi larut dalam rasa cemasnya sendiri. Selain itu, dorongan yang ditekan ke alam bawah sadar ini bisa saja diekspresikan dalam bentuk yang berbeda oleh individu yang mengalaminya.

Jika dibiarkan terus menerus represi akan berbahaya bagi kesehatan mental. Proses represi juga menghalangi seseorang mencapai kebebasan emosi, rasa gembira, dan kesehatan mental. 

Perlu diingat bahwa mekanisme pertahanan manusia jangan dibiarkan merugikan diri sendiri. Belajar merelakan dan kuat menghadapi masalah hidup mungkin dapat dilakukan. Sebab, hidup sejatinya akan dipenuhi masalah dan tekanan.

Gejala Stockholm Syndrome yang Perlu Diketahui

Stockholm syndrome adalah gangguan mental

Di dunia ini hal apa saja bisa terjadi. Misalnya, terjadinya kisah cinta antara seorang penculik dengan korbannya. Atau korban penculikan yang tiba-tiba jadi simpati dan jatuh hati kepada penculik. Fenomena tersebut biasa disebut dengan Stockholm Syndrome. Sindrom ini juga disebut capture bonding dimana korban penculikan biasanya terisolasi dari dunia luar dan hanya menghabiskan waktu dengan penculiknya. Kondisi tersebut berdampak kepada psikologi korban dan membuatnya mentoleransi hal-hal buruk yang dilakukan sang penculik kepadanya, tetapi sang korban justru memiliki perasaan simpati terhadap sang penculik.

Stockholm Syndrome bisa dibilang merupakan fenomena psikologi yang jarang. FBI mencatat dari banyaknya kasus penculikan, hanya 8% saja yang mengindikasikan gejala Stockholm Syndrome. Banyak juga ahli psikologi yang menganggap fenomena sindrom ini sebagai satu bentuk kesalahan dari upaya survival para korban penculikan.

Sebenarnya apa sih Stockholm Syndrome itu dan mengapa seseorang bisa sampai mengalaminya?

1. Asal usul nama Stockholm Syndrome

Nama Stockholm Syndrome diambil dari salah satu kejadian perampokan bank Sveriges Kreditbanken yang terjadi di kota Stockholm, Swedia pada tahun 1973. Sang pelaku perampokan bernama Jan-Erik Olsson merupakan narapidana dan menyandera 4 pegawai bank di dalam salah satu ruangan brankas utama bank. Olsson menyandera keempat pegawai tersebut selama 6 hari dari tanggal 23 Agustus hingga 28 Agustus 1973.

Selama jangka waktu 6 hari tersebut, polisi kota Stockholm mencoba bernegosiasi dengan Olsson dan sang pelaku perampokan meminta rekan satu penjaranya, yakni Clark Olofsson untuk bisa bergabung dengannya, jika hal tersebut dikabulkan maka ia akan mempertimbangkan untuk melepas keempat sandera.

Polisi kota lantas mengabulkan permintaan Olsson dengan membebaskan Olofsson dan membiarkannya bergabung dengan Olsson. Tetapi selama 6 hari penyekapan dan negosiasi, 4 korban penyekapan bank ternyata menunjukkan perilaku yang aneh. Mereka justru mendukung motivasi Olsson dan meminta sang penjahat untuk tidak menyerah kepada polisi. Mereka justru lebih takut kepada pihak keamanan dibandingkan Olsson dan Olofsson yang selama 6 hari menyekap mereka.

Sementara pihak polisi terus memikirkan upaya agar dapat membebaskan keempat sandera, mereka akhirnya dapat menjebol brankas utama tempat Olsson menyekap keempat korban. Polisi pun langsung melancarkan serangan gas air mata kepada 2 pelaku perampokan. Seorang kriminolog sekaligus psikiatri yang membantu polisi dalam kejadian tersebut, Nils Bejerot, lantas dengan cepat menyadari ikatan emosional antara keempat korban terhadap Olsson segera setelah keempatnya dievakuasi dari bank. Keempat korban bahkan menolak untuk bersaksi atau menjatuhkan dakwaan kepada kedua pelaku.

Nils Bejerot menganggap apa yang keempat pegawai bank tersebut lakukan merupakan salah satu reaksi psikologi mereka selama 6 hari penyekapan. 4 korban yang disekap di dalam ruangan brankas kecil menyadari bahwa mereka tidak bisa kabur, ditambah dengan fakta bahwa Olsson terus menerus menodongkan senjata api ke arah mereka membuat keempat korban beradaptasi dengan ancaman yang dilayangkan oleh Olsson. Kondisi psikologi ini kemudian sampai kepada titik dimana korban justru memiliki keyakinan bahwa pelaku menjadi tidak berbahaya (harmless).

2. Gejala Stockholm Syndrome

Dalam jurnal yang ditulis oleh Elizabeth L. Sampson dan Nicola Tufton berjudul “Stockholm Syndrome: Psychiatric Diagnosis or Urban Myth”  terdapat beberapa hal yang bisa diidentifikasi dari para penderita Stockholm Syndrome, diantaranya:

  • Berkembangnya perasaan positif terhadap penculik, penyandera, atau pelaku kekerasan.
  • Berkembangnya perasaan negatif terhadap keluarga, kerabat, pihak keamanan, atau masyarakat yang berusaha untuk membebaskan atau menyelamatkan korban dari pelaku.
  • Memperlihatkan dukungan dan persetujuan terhadap kata-kata, tindakan, dan nilai-nilai yang diutarakan oleh sang penculik, penyandera atau pelaku kekerasan.
  • Ada perasaan positif yang muncul atau disampaikan oleh pelaku terhadap korban.
  • Korban secara sukarela membantu pelaku, bahkan untuk melakukan tindak kejahatan.
  • Tidak mau berpartisipasi maupun terlibat dalam usaha pembebasan atau penyelamatan korban dari pelaku.

Demikian fakta menarik mengenai Stockholm Syndrome. Semoga menambah wawasanmu.

Alasan Logis di Balik Fenomena Electra Complex

Pernahkah Anda mendengar atau membaca sebuah legenda Yunani tentang sebuah peristiwa pembunuhan ibu oleh anak perempuannya? Syahdan, seorang putri dikerajaan Argos, Electra, melakukan misi balas dendam atas kematian ayahnya, Agamemnon. Electra dibantu sudaranya Orestes membunuh sang ibu, Clytemnestra dan pacarnya sekaligus, Aegisthus. Keduanya adalah orang di balik kematian ayahnya. Konon dari cerita itu, fenomena electra complex muncul.

Electra Complex hasil buah pikir Carl Gustav Jung dimengerti sebagai sebuah kondisi di mana anak perempuan memiliki ketertarikan lebih dan khusus kepada ayahnya. Ketertarikan itu, menurut Jung, bahkan juga dalam ranah seksual.

Lebih radikal, konsep electra complex ini dapat disebut sebagai sebuah kecemburuan anak perempuan terhadap ibunya. Mereka cenderung tidak suka kepada ibu lantaran merasa tersaingi dalam hal cinta dan kasih sayang ayah. Kondisi ini bisa berlanjut hingga si anak perempuan memiliki rasa ketakutan kehilangan rasa cinta dan kasih sayang dari sayang ayah.

Berbeda dengan oedipus complex, atau antitesis dari electra complex, fenomena “cinta” anak perempuan terhadap ayahnya ini lebih intens dan cenderung beranjak ke situasi yang tidak seharusnya terjadi.

Namun, konsep atau fenomena soal electra complex, termasuk oedepus complex, masih sering menuai perdebatan dan pro—kontra. Pasalnya, semuanya masih harus dibuktikan melalui berbagai macam penelitian dan kajian ilmiah lanjutan. Akan tetapi, mari kita berandai-andai, jika electra complex memang eksis, argumen logis apa saja sih yang bisa dijadikan sebagai sebuah pembenaran atas kondisi tersebut? Berikut di antaranya:

  • Laki-Laki Pertama dalam Hidup Anak Perempuan Adalah Ayah

Tak dapat dimungkiri jika laki-laki pertama bagi seorang anak perempuan adalah ayahnya sendiri, meskipun dia memiliki kakak laki-laki, misalnya. Sehingga itu membentuk anggapan seorang anak perempuan tentang lawan jenis berdasarkan apa yang dia lihat dari ayahnya.

Kondisi ini tak berlebihan jika mengatakan seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Belum lagi ditambah bahwa banyak orang yang mengamini dan tidak perlu mendebat argumen tersebut.

  • Peran Ayah Melindungi Anak Perempuannya

Secara umum, manusia memiliki naluri untuk melindungi, terlebih orang tua. Bukan bermaksud seksis, tetapi pada umumnya, seorang anak perempuan cenderung merasa aman dan nyaman di dekat sang ayah lantaran meyakini bahwa pria dewasa itu mampu melindunginya dari segala marabahaya.

Setali tiga uang, hampir dipastikan bahwa semua ayah akan melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya, termasuk anak perempuannya.

  • Anak Perempuan Cenderung Lebih Peka

Anak perempuan cenderung lebih ekspresif daripada laki-laki sehingga mereka selalu menunjukkan kasih sayang dan gerakan-gerakan yang menyenangkan bagi seorang ayah, seperti senyum atau sentuhan lembut.

  • Kemudahan Berkomunikasi

Secara statistik, 88 persen ibu mengaku memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara berbeda. Meski tidak tepat, mereka mengaku bahwa ikatan dengan anak laki-laki cenderung lebih mudah daripada dengan anak perempuan. Sebaliknya, seorang ayah cenderung lebih mudah berkomunikasi dengan anak perempuannya.

***

Selain beberapa poin di atas, penjelasan masuk akal lain mengenai fenomena electra complex dapat ditinjau dari peran sang ayah dalam masa pertumbuhan anak perempuannya. Dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan unik antara ayah dan anak perempuannya.

Suatu hal yang lumrah jika seorang ayah cenderung lebih dekat dan akrab dengan anak perempuan ketimbang terhadap anak lelakinya. Kebanyakan orang berpikir bahwa peran ayah sangat penting dalam membentuk anak laki-laki menjadi laki-laki dewasa. Namun, banyak juga orang yang gagal memahami pengaruh ayah terhadap anak perempuan mereka.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa peran ayah memiliki pengaruh yang lebih besar pada anak-anaknya daripada seorang ibu dalam hal pembentukan perilaku. Penelitian lain menunjukkan bahwa anak perempuan yang memiliki hubungan yang lebih baik dengan ayahnya cenderung memiliki banyak keuntungan pribadi, seperti hubungan romantis yang lebih sehat, perilaku yang lebih baik, peningkatan harga diri, citra tubuh yang positif, kemandirian, dan kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik.

Di sisi lain, tidak adanya figur ayah menjadi salah satu faktor paling umum bagi seorang anak perempuan untuk tumbuh secara introvert, berprasangka buruk terhadap lawan jenis, membuat keputusan terburu-buru, dan terlibat dalam hubungan yang tidak stabil.

Kedekatan ayah terhadap anak perempuannya sebenarnya adalah sesuatu yang bisa dan normal-normal saja. Masalahnya, electra complex seakan menjadi sebuah hal “luar biasa” lantaran definisi dan tafsiran-tafsirannya. Jadi, sebaiknya tetap jalankan apa-apanya sesuai koridor dan batasan-batasan yang ada, ya.