Skrining TBC, Apa dan Kapan Anda Membutuhkannya?

Tahun 2019 lalu, Kementerian Kesehatan RI melaksanakan skrining TBC di berbagai tempat yang dianggap berpotensi sebagai area penularan TBC. Beberapa lokasi yang dipilih adalah pondok pesantren, asrama TNI dan POLRI, serta lembaga pemasyarakatan. Lebih dari 400 ribu orang menjalani pemeriksaan dan 35 ribu di antaranya diduga menderita TBC.

Beberapa ahli bahkan mengklaim, di negara dengan kualitas sanitasi seperti Indonesia, sebagian besar masyarakat diduga memiliki bakteri TB di dalam tubuhnya. Jika tidak ada gejala yang muncul, kemungkinan karena bakteri tersebut dalam posisi tidur atau dormant. Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri dapat aktif dengan segera.

Maka, penting sekali untuk dilakukan skrining TBC, agar upaya-upaya penanganan yang tepat dapat dilakukan.

Skrining TBC, apakah itu?

Dengan skrining TBC dapat diketahui apakah seseorang terinfeksi bakteri tuberkulosis (TBC) atau tidak. Infeksi ini sering kali menyerang paru-paru, namun tidak terbatas pada organ tersebut. Ginjal, tulang belakang, dan otak dapat diserang oleh bakteri TBC. Itu sebabnya, infeksi ini dikategorikan sebagai infeksi yang sangat serius.

Pada beberapa orang, infeksi ini tidak menimbulkan gejala atau disebut dengan TBC laten. Seperti disebutkan sebelumnya, TBC laten dapat menjadi TBC aktif saat daya tahan tubuh menurun. Dan pada periode ini, pasien dapat menularkannya kepada orang lain.

Pemeriksaan yang sangat seksama pun dibutuhkan. Skrining TBC pada anak-anak, biasanya dilakukan dengan tes Mantoux, sedang pada orang dewasa dilakukan dengan tes dahak dan rontgen dada.

Tes Mantoux

Tes mantoux merupakan skrining TBC yang umum dilakukan pada anak-anak. Dalam prosesnya, pemeriksaan ini dilakukan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, dokter akan menyuntikkan purified protein derivative (PPD)ke bawah kulit pasien. Umumnya, PPD atau yang lebih dikenal dengan istilah tuberkulin ini disuntikkan di bagian lengan.

Setelah proses penyuntikkan tuberkulin, muncul benjolan kecil berwarna pucat pada area bekas suntikan.

Tahap berikutnya, dalam 24-72 jam, dokter akan melihat reaksi yang muncul terhadap tuberkulin. Adanya reaksi kulit yang timbul menandakan bahwa pasien telah terinfeksi bakteri TBC. Rentang waktu tersebut, harus presisi. Jika pasien baru datang kembali setelah 72 jam, maka tes mantoux perlu diulangi.

Sementara, bila tidak ditemukan reaksi pada kulit dan tes ini merupakan tes pertama pasien, maka pemeriksaan perlu diulangi dalam 1-3 minggu berikutnya. Tujuannya, untuk memastikan bahwa hasil skrining TBC tersebut benar-benar negatif.

Rontgen dada

Pada prinsipnya, prosedur ini menyerupai prosedur rontgen secara umum. Dada pasien akan diperiksa di bawah sinar X dan hasilnya akan diinterpretasi oleh dokter ahli radiologi. Dalam hal ini, dokter ahli radiologi akan mencari ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi TBC.

Pemeriksaan dahak

Pasien yang menjalani skrining TBC dengan pemeriksaan dahak, akan diminta batuk hingga mengeluarkan dahak. Pengambilan sampel dahak ini dilakukan pada pagi hari.  Ke dalam wadah yang sebelumnya telah diberikan kepada pasien, dahak tersebut ditampung. Nantinya, dahak tersebut akan diperiksa di laboratorium.

Dahak akan disimpan di dalam wadah khusus yang berisi nutrisi bagi bakteri. Selanjutnya, bakteri yang tumbuh akan dianalisis agar diketahui apakah di antaranya terdapat bakteri TBC atau tidak.

Kondisi yang memerlukan skrining TBC

Tidak ada orang yang ingin terinfeksi bakteri TBC. Dan sebagian besar orang mungkin bersedia menjalani skrining TBC, demi memperoleh perawatan yang tepat. Namun, pertanyaannya, kapan kita perlu menimbang untuk melakukan pemeriksaan TBC?

Anda sebaiknya berkunjung ke dokter dan menjalani skrining TBC jika mengalami batuk terus-menerus selama 2 minggu, mengalami batuk berdarah, nyeri dada, demam, berkeringat di malam hari, sering merasa kelelahan, dan berat badan Anda menurun tanpa ada penyebab yang jelas.

Label BPA Free Tidak Menjamin Botolmu Bebas Penyakit

Hampir sebagian perangkat kita sehari-hari dibuat dari berbagai bahan kimia. Beberapa di antaranya ada yang tidak baik untuk kesehatan. Salah satu bahan kimia tersebut adalah bisphenol-A (BPA). Salah satu hal penting yang harus diperhatikan terkait BPA ini adalah penggunaannya di perangkat makan kita, sebab kontaminasi zat itu bisa menyebabkan penyakit. Oleh karenanya, pastikan semua perangkat makan kita memiliki label BPA free.

Bisphenol-A digunakan untuk membuat wadah atau perangkat makan kita kuat dan tidak mudah bocor. Namun, BPA bisa mengkontaminasi makanan atau minuman yang disimpan di dalam wadah tersebut. Ketika BPA masuk ke tubuh manusia, maka berbagai masalah kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang dapat terjadi, baik pada orang dewasa, anak-anak, bahkan janin.

Akan tetapi bahaya tidak berhenti sampai di situ saja. Meski wadah atau perangkat makan dan minum kita memiliki label BPA free, kemungkinan makanan atau minuman terkontaminasi zat berbahaya masih tetap ada. Beberapa kebiasaan di bawah inilah penyebab-penyebabnya:

  1. Tidak Rajin Mencuci Botol

Walaupun hanya diisi air putih, biasakan untuk mencuci botol minum Anda setidaknya sehari sekali. Sama seperti gelas yang kita pakai untuk minum, pinggiran botol minum yang tidak dibersihkan bisa menjadi ladang bakteri. Bagian dalam botol yang jarang dibersihkan juga akan ditumbuhi jamur, sehingga akan berdampak pada kehigienisan bahkan rasa dari minuman Anda. Anda bisa saja terkena diare karena kebiasaan buruk yang satu ini.

  • Mengisi Air Minum dalam Keadaan Basah

Ketika kita telah rajin mencuci wadah makanan dan minuman sebaiknya pastikan mereka telah kering secara sempurna sebelum menggunakannya lagi. Sebab botol minum atau tempat makan yang masih basah bisa membuat bakteri dan jamur tumbuh. Hal ini berkaitan dengan sifat bakteri dan jamur yang mudah tumbuh dalam keadaan lembap. Bagian penutup botol merupakan tempat paling favorit untuk bakteri berkembang biak, saat botol minum dipakai dalam keadaan lembap atau basah.

  • Tidak Mencuci Botol dengan Benar

Selain memiliki label BPA free, perawatan wadah itu sendiri memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan Anda. Mencuci wadah makan atau minuman hanya dengan air tak menjamin bakteri atau jamur mati seketika. Menurut para ahli, cara terbaik untuk membersihkan botol minum, terutama bagian dalamnya adalah dengan menggunakan campuran air panas dengan baking soda atau cuka. Hal ini akan mengangkat jamur, serta menghilangkan bau dari botol minum. Setelahnya, barulah bersihkan kembali dengan sabun dan bilas hingga bersih. Jangan lupa gunakan sikat pembersih, untuk menjangkau bagian yang susah dibersihkan dengan tanganmu.

  • Tidak Teliti Sewaktu Mengeringkan

Botol minum biasanya terdiri dari beberapa bagian, yang paling umum tentu saja bagian badan dan penutup botolnya. Setelah kamu mencuci bersih tiap bagiannya, botol minum jangan lansung dipasang, kemudian dikeringkan. Bukannya kering, sisa air pembersih pada bagian botol minum malah akan menumpuk. Biarkan masing-masing bagian botol kering terlebih dahulu, sebelum kamu memasangkannya kembali.

  • Bau dan Perubahan Warna Tanda untuk Segera Cari Pengganti

Seorang ahli kesehatan menyebutkan bahwa perubahan warna, rasa, hingga bentuk seperti retakan pada botol minum, hanya akan membuat meningkatnya jumlah bakteri di area tersebut.

Artinya, jika wadah makanan atau minuman Anda telah berbau dan melihatkan perubahan warna atau bentuk, segeralah beralih dan cari pengganti. Jangan gunakan wadah yang telah usang. Sebab, selain akan “merusak” rasa dari makanan atau minuman Anda, tidak ada jaminan pula isi di dalamnya akan bebas dari zat-zat berbahaya.

***

Itulah beberapa kebiasaan buruk yang bisa juga membuat wadah tempat makan atau minuman Anda menjadi sebab dari memburuknya kondisi kesehatan. Jadi, jangan hanya terpaku dengan label BPA free, perawatan yang baik dan benar juga bisa menjadi upaya Anda terhindar dari berbagai penyakit.

Hal Penting bagi Ibu Menyusui di Tengah Pandemi Corona

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) masih terus berlangsung hingga saat ini. Tragedi itu melumpuhkan beberapa sendi kehidupan sekaligus mengubah banyak tatanan yang sudah mapan. Banyak kelompok orang berada di dalam situasi dilematis, salah satunya ibu menyusui.

Virus corona menyebar dan dapat menginfeksi seseorang melalui droplet atau percikan cairan dari mulut maupun hidung. Oleh karenanya, phsycal distancing atau pembatasan fisik (menjaga jarak) menjadi prosedur yang ditetapkan untuk memutus rantai persebaran virus tersebut. Masalahnya, bagaimana ibu bisa menyusui bayinya jika harus menjaga jarak. Kondisi itu bertambah rumit ketika sang ibu, yang tengah menyusui itu, masuk ke dalam daftar pasien covid-19.

Untuk mengatasi itu, banyak organisasi kesehatan masyarakat merekomendasikan ibu dan bayi tetap bersama, kendati si ibu positif corona. Pasalnya, biar bagaimanapun si bayi harus tetap mendapatkan asupan ASI dalam masa-masa menyusui tersebut untuk menunjang kehidupannya.

Situasi ini berhasil memaksa organisasi kesehatan untuk membuat prosedur untuk mengatasi dilema ini. Ada yang menyarankan pasien covid-19 yang berstatus sebagai ibu menyusui dipisahkan dengan pasien lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Tujuannya agar ibu masih dapat menyusui bayinya tanpa mengorbankan kesehatan si bayi dari orang-orang selain ibunya.

Lain lagi pandangan dari Academy of Breastfeeding Medicine. Alison Stuebe, MD, sang presiden memengungkapkan bahwa ada banyak risiko yang bakal diterima bayi jika ia harus dipisahkan dari ibunya.

Dalam komentarnya, Dr. Stuebe, mencatat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemisahan antara bayi dan ibu dengan dugaan atau konfirmasi Covid-19 bisa “menyelamatkan” si bayi.

Memang pemisahan ini bisa meminimalisir risiko penularan virus dari ibu ke bayi selama tinggal di rumah sakit. Namun itu memiliki potensi konsekuensi negatif bagi ibu dan bayi, demikian komentar yang diterbitkan dalam Breastfeeding Medicine, jurnal resmi dari Academy of Breastfeeding Medicine.

Dr. Stuebe menguraikan beberapa risiko memisahkan ibu dan bayi di rumah sakit, yang mengganggu pemberian ASI dan kontak kulit ke kulit selama jam dan hari-hari kritis setelah kelahiran. Sebagai contoh, bayi yang kekurangan kontak kulit dengan ibu mereka cenderung memiliki detak jantung dan pernapasan yang lebih tinggi dan kadar glukosa yang lebih rendah.

Perpisahan itu juga bisa membuat mental dan kondisi psikologis ibu tertekan, yang mana bisa membuatnya lebih sulit untuk melawan infeksi virus corona. Selain itu, pemisahan mengganggu pemberian ASI kepada bayi, yang penting untuk perkembangan sistem kekebalan bayi. Pemisahan juga mengganggu pemberian ASI, yang menempatkan bayi pada peningkatan risiko infeksi pernapasan berat, termasuk pneumonia dan Covid-19.

  • Prosedur Pemberian ASI oleh Ibu Menyusui Terduga atau Positif Corona

Oleh karena pentingnya aktivitas menyusui bagi bayi maupun si ibu sendiri, kendati tengah dalam bayang-bayang virus corona, berikut beberapa prosedur yang disarankan untuk meminimalisir terjadinya penularan:

  • Untuk ibu yang memiliki gejala tapi masih bisa menyusui, tindakan pencegahan yang dimaksud adalah memakai masker ketika berada di sekitar anak (termasuk ketika sedang menyusui);
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan anak (termasuk menyusui);
  • Membersihkan/memberi desinfektan pada permukaan yang terkontaminasi – sebagaimana seharusnya dilakukan untuk tiap kali seseorang yang telah dikonfirmasi atau dicurigai terkena covid-19;
  • Jika kondisi ibu terlalu payah, maka disarankan untuk memerah ASI dan memberikannya ke anak melalui cangkir dan/atau sendok bersih – dan terus melakukan metode pencegahan penularan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

***

Itulah kiranya beberapa hal penting yang dapat diketahui menganai aktivitas ibu menyusui di tengah pandemic virus corona. Situasi ini memang berat dan amat dilematis, tetapi dengan prosedur yang benar dan aman, kemungkinan terjadinya penularan pada bayi pun bisa diminimalisir sehingga bayi tetap mendapatkan nutrisi dari sang ibu, dan sebaliknya, ibu tetap dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,

Rhinitis, Gangguan Indera Penciuman yang Mengganggu Kehidupan Anak

Apakah Anda pernah menemukan masalah pada indera penciuman anak Anda, biasanya ditandai seperti gejala flu, tetapi tak kunjung sembuh walau sudah diberikan obat? Ya, mungkin anak Anda terserang rhinitis.

Rhinitis adalah kondisi di mana terjadi peradangan di dalam rongga hidung. Siapa saja bisa mengalami, termasuk anak-anak. Jika benar, Anda harus waspada. Karena selain mengganggu aktivitas si kecil, bila anak sudah terserang rhinitis, biasanya dia akan semakin mudah terkena serangan serupa hingga usia dewasa.

Hal ini diketahui melalui data statistik yang dilansir American Academy of Allergy, Asthma & Immunology, “Rhinitis alergi yang timbul pada masa anak-anak biasanya menetap sampai usia dewasa, dan akan berkurang pada usia lanjut. Sekitar 15-25% penderita akan sembuh secara spontan setelah 5-7 tahun,” kata laporan tertulis itu.

Sebenarnya rhinitis dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, yakni rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi. Akan tetapi di lapangan, penyebab yang paling lazim adalah lantaran dipicu oleh alergen. Kira-kira perbedaannya dapat dipetakan seperti berikut:

  • Rhinitis alergi

Rhinitis alergi atau yang sering disebut dengan hay fever disebabkan oleh respons alergi terhadap alergen seperti serbuk sari, tungau, debu, air liur hewan peliharaan, bulu binatang peliharaan, dan lainnya. Rhinitis alergi terjadi akibat sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi zat tersebut sebagai zat asing sehingga menyebabkan peradangan pada lapisan hidung, yang meningkatkan sensitivitas saluran pernapasan.

  • Rhinitis nonalergi

Sedangkan rhinitis nonalergi disebabkan oleh mencakup bau tertentu di udara, perubahan cuaca, beberapa obat, makanan tertentu, dan kondisi kesehatan kronis. Rhinitis nonalergi dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa, tetapi lebih sering terjadi setelah usia 20 tahun.

Meski gejala yang ditampakkan anak-anak bisa berbeda-beda setelah terpapar alergen, tetapi umumnya mereka akan mengalami kondisi seperti:

  • Hidung berair atau tersumbat.
  • Bersin-bersin.
  • Mata yang gatal atau berair.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.

Kondisi-kondisi di atas memang akan sembuh dengan sendirinya dan cenderung dapat ditangani. Namun, ada beberapa kasus di mana keadaan itu tak kunjung membaik dan terus-menerus hinggap di tubuh anak Anda.

Situasi ini biasa disebut gejala parennial, dan gejala awal tadi terus berkembang. Beberapa anak-anak dapat menderita sinusitis, di mana rongga di tengkorak dekat dengan tulang pipi dan alis mata dipenuhi oleh cairan yang menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bahkan terkadang menyebabkan infeksi.

Anak kecil bisa berisiko mengembangkan telinga yang lengket (glue ear) sebagai komplikasi sinusitis karena tabung yang menghubungkan ke tenggorokan dan telinga berada di dekat tenggorokan yang tersumbat. Ini bisa juga menyebabkan gangguan pendengaran sementara.

Belum lagi pendarahan di hidung di mana itu merupakan gejala yang umum dari rhinitis alergi. Karena selaput hidung terasa gatal dan sering digosok atau tergoress.

Di sini kepekaan dan perhatian Anda amat dibutuhkan. Jangan ragu untuk segera memeriksakan anak Anda ke dokter jika:

  • Mengalami gejala-gejala yang terasa sangat mengganggu dan tidak kunjung membaik.
  • Obat alergi yang diminum tidak efektif atau justru memicu efek samping yang mengganggu.
  • Memiliki penyakit lain yang bisa memperparah rhinitis alergi, misalnya sinusitis, asma, atau polip dalam rongga hidung.

Jika situasinya akan bergulir ke arah yang mengkhawatirkan tersebut, sebaiknya Anda mulai melakukan tindakan preventif untuk menghindari kemungkinan anak terserang rhinitis. Pencegahan bisa Anda mulai dengan mulai menyingkirkan hal-hal yang memicu alergi. Contohnya jika mengalami alergi terhadap debu, maka bersihkan rumah secara teratur, terutama ruangan yang sering digunakan.

Selain itu, beberapa aktivitas ini juga dapat Anda lakukan sebagai upaya menghindari anak, juga keluarga dari ancaman rhinitis tersebut, di antaranya:

  • Membersihkan air conditioner (AC) setiap 2-3 bulan sekali.
  • Gantilah seprai, kelambu, dan gorden setiap 1 minggu sekali.
  • Jemur tempat tidur 1 minggu sekali.
  • Hindari penggunaan karpet, kapuk, dan boneka bulu.
  • Anjurkan anak untuk lebih banyak bermain di luar kamar, karena jumlah tungau debu rumah paling banyak terdapat di kamar tidur.

Kira-kira itulah beberapa hal yang dapat disajikan mengenai rhinitis pada anak. Jangan pernah biarkan si kecil dan seluruh anggota keluarga terserang gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Pasalnya, lingkungan yang kotor merupakan sumber dari berbagai macam penyakit, tak hanya rhinitis, penyakit-penyakit lain pun dapat bermula dari lingkungan yang tidak bersih.

Waspada Penyebaran Virus Corona, Lakukan Langkah-Langkah Ini

Anda tentu tahu, saat ini kita tengah dihantam wabah virus corona. Kepanikan terjadi di mana-mana karena pengetahuan tentang virus ini masih sangat minim. Untuk dapat menghindarinya, kita semua perlu membekali diri dengan wawasan yang benar terkait virus tersebut.

Mengenal virus corona

Virus corona merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi hewan dan dapat pula menyebar ke manusia. Di dalam kelompok ini, terdapat Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-COV) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS-COV). Jenis virus yang paling baru dari kelompok ini adalah SARS-CoV-2 yang tengah mewabah saat ini.

SARS-CoV-2 merupakan jenis virus corona ketujuh yang menginfeksi manusia. Dampaknya, timbul penyakit COVID-19. Karena ini merupakan virus baru, maka hal-hal yang sekarang diketahui terkait virus ini sangat mungkin berubah.

Informasi sementara, masa inkubasi dari SARS-CoV-2 berlangsung antara 2-14 hari. Artinya, dibutuhkan waktu 2-14 hari sejak seseorang pertama kali tertular sampai muncul gejala.

Infeksi pertama kali memang ditemukan di Wuhan, China, tapi kini telah dinyatakan sebagai pandemi. Sebab sudah tersebar hampir di seluruh dunia.

Berdasarkan informasi yang disediakan oleh WHO, cara penularan SARS-CoV-2 belum diketahui secara pasti. Namun, secara umum virus dapat menyebar melalui tetesan ludah halus penderita ketika berbicara, batuk, atau bersin.

Tetesan ludah halus tersebut dapat masuk langsung ke hidung atau mulut orang sehat dan menyebabkannya terinfeksi. Selain itu, tetesan ludah halus penderita juga dapat menempel pada permukaan benda. Maka, disarankan untuk sesering mungkin membersihkan permukaan benda yang memiliki kontak dengan orang sakit. Sebab ketahanan virus ini belum diketahui, maka waspada merupakan jalan satu-satunya.

Lakukan langkah ini untuk mencegah penyebaran virus corona

Pasien yang tertular SARS-CoV-2 atau lebih lazim disebut virus corona, menunjukkan gejala-gejala ringan hingga berat. Beberapa tanda yang muncul diantaranya demam, batuk, kesulitan bernapas atau napas menjadi pendek. Pada kondisi yang lebih parah, dapat terjadi pneumoniae, gagal ginjal, hingga kematian. Beberapa yang tertular virus ini juga tidak menunjukkan gejala sama sekali, namun tetap dapat menularkannya kepada orang lain.

Sementara ini belum ada pengobatan maupun vaksin untuk virus ini. Semua masih dalam tahap penelitian. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Mencegah agar tidak tertular atau meminimalisasi penyebaran virus tersebut. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan.

1. Tinggal di rumah saja

Tinggal di rumah saja atau self isolation merupakan tindakan nyata dari social distancing atau pembatasan sosial. Langkah pembatasan sosial diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Jadi, bila tidak penting dan mendesak, sebaiknya Anda tidak keluar rumah untuk sementara waktu.

2. Rutin mencuci tangan

Disarankan untuk mencuci tangan Anda dengan air mengalir dan sabun secara rutin, bahkan lebih sering dari biasanya. Bila hal ini tidak memungkinkan, Anda boleh menggunakan hand sanitizer.

Cairan antiseptik atau hand sanitizer yang digunakan harus mengandung alkohol minimal 60%. Kadar alkohol yang dianggap efektif untuk mencegah infeksi adalah antara 60%-71%.

3. Menjaga jarak

Saat Anda terpaksa sekali harus keluar rumah, jagalah jarak dengan orang lain. Terutama mereka yang tengah batuk atau bersin. Jagalah jarak aman paling tidak 1 meter. Sebab droplet atau tetesan ludah paling jauh dapat tersembur sejauh 1 meter.

4. Hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut

Sebisa mungkin tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut, sebab tangan Anda mungkin saja sudah terkontaminasi virus corona yang menempel pada permukaan benda. Bagian tubuh, seperti mata atau hidung, memiliki membran mukosa yang dapat menjadi jalan masuk virus.

Jika Anda telah berusaha melakukan swakarantina di rumah, menjaga kebersihan, serta pola hidup agar sistem kekebalan tubuh tetap baik, namun Anda merasakan demam dan kesulitan bernapas, atau gejala lain yang Anda duga sebagai tanda infeksi virus corona, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Anda dapat menghubungi 119 bila dibutuhkan. Nomor tersebut merupakan hotline khusus untuk pengaduan COVID-19 yang disediakan oleh Kemenkes RI.

Bahaya Obat Pengusir Tikus bagi Manusia

bahaya obat pengusir tikus yang dapat sebabkan kematian pada manusia.

Banyak orang-orang memilih obat pengusir tikus atau dalam kata lain “racun tikus” untuk mengatasi keberadaan hewan pengerat itu di dalam rumahnya. Salah satu alasan tingginya penggunaan racun tikus adalah keampuhannya untuk “membasmi” tikus. Tikus yang menyambar makanan yang telah diberi racun seketika akan tergolek tak bernyawa lantaran zat yang terdapat dalam racun itu bekerja mematikan mekanisme tubuh mereka.

Sebenarnya, penggunaan obat pengusir tikus merupakan masalah preferensi belaka. Namun, yang harus diperhatikan bila seseorang memilih mengatasi gangguan tikus di rumahnya dengan racun adalah efek samping atau risiko terhadap dirinya sendiri atau manusia lain di dalam rumah itu. Pasalnya, racun tikus merupakan sesuatu yang tak kalah berbahayanya bagi manusia.

Kandungan dan Mekanisme Kerja Senyawa Berbahaya di dalam Racun Tikus

Salah satu zat atau senyawa yang terkandung di dalam racun tikus adalah Rodentisida. Rodentisida sendiri memang merupakan senyawa kimia beracun yang peruntukannya sengaja digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat. Rodentisida terbagi ke dalam dua kelompok besar berdasarkan kecepatan kerjanya, yakni rodentisida akut (bekerja cepat) dan rodentisida kronis (bekerja lambat). Contoh bahan aktif rodentisida yang tergolong racun akut adalah seng fosfida, brometalin, crimidine, dan arsenik trioksida. Sementara bahan aktif yang tergolong racun kronis adalah kumatetralil, warfarin, fumarin, dan pival yang termasuk racun antikoagulan generasi I, serta brodifakum, bromadiolon, dan flokumafen.

Cara kerja rodentisida ini sendiri dengan cara merusak jaringan saluran pencernaan, masuk ke aliran darah, untuk nantinya berujung pada hancurnya liver target. Penggunaan rodentisida sebagai racun tikus biasanya dalam bentuk batangan dan pellet. 

Mekanisme lain senyawa di dalam racun tikus yang juga amat membahayakan bagi manusia ialah menghentikan pembekuan darah. Jika tertelan oleh manusia, senyawa ini mengakibatkan pendarahan yang lebih serius dan efek yang ditimbulkan lebih lama. 

Tanda dan gejala yang dapat timbul jika tertelan bahan aktif ini yaitu perdarahan ringan hingga berat. Perdarahan dapat terjadi seperti pendarahan pada gusi dan hidung, darah pada feses, dan nyeri pada bagian perut. Sementara itu, perdarahan yang berat akan membuat penderitanya mengalami buang air kecil berdarah, muntah berdarah, hingga terjadi syok dan kematian.

Kasus Kematian Lantaran Racun Tikus

Kasus kematian manusia lantaran menelan obat pengusir tikus kimia ini sudah marak sekali. Di Indonesia sendiri, kerap terdengar berita menyesakkan dada ini. Ada yang keracunan lantaran insiden ketidak-sengajaan, tetapi lebih sering korban memang sengaja diracun oleh orang lain.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, beberapa tahun silam. Kejadian yang terjadi lantaran kelalaian itu menyebabkan enam orang meninggal dunia. Keenamnya diduga kuat terpapar racun tikus. Dalam laporan tertulis mengenai kejadian luar biasa (KLB) keracunan itu, Tim Surveilans Dinas Kesehatan Kalimantan Barat menemukan masa inkubasi keracunan masing-masing korban antara satu jam hingga dua jam. Para korban juga menunjukkan gejala yang sama yakni mual, muntah, sakit kepala, kejang, dan mulut mengeluarkan busa. Dengan melihat gejala itu, tim menyimpulkan bahwa para korban mengalami keracunan bahan kimia.

Produsen obat pengusir tikus kimia ini memang membuat racun dalam bentuk, bau, dan warna yang menarik. Tujuannya tak lain agar si tikus terpancing untuk memakannya. Yang jadi masalah adalah, hal ini amat berisiko bagi mereka yang memiliki anak-anak kecil. Pasalnya, kemungkinan si anak tertarik dan turut “menyantap” racun tikus itu amat tinggi.  Itu sesuai dengan kebiasaan anak-anak yang mudah tertarik pada sesuatu yang mencolok.

Oleh karenanya, untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan, ada beberapa etika atau cara memasang racun tikus yang aman dan tepat. Beberapa di antaranya adalah dengan mempatkan racun dalam wadah khusus, misalnya di dalam potongan pipa, sehingga tidak bisa dimakan hewan peliharaan. Pemilihan tempat untuk menaruh racun tikus itu pun harus diperhatikan, jangan taruh racun di sembarang tempat atau di tempat-tempat yang mudah dijangkau anak kecil.

Sirosis Hati: Apa Yang Perlu Diketahui?

Sirosis hati merupakan tahap akhir dari jaringan hati yang biasanya disebabkan oleh hepatitis dan kecanduan alkohol. Hati memiliki peran penting, antara lain mengeluarkan zat berbahaya atau racun dari tubuh, membersihkan darah, sebagai nutrisi dalam organ tubuh, dan melawan infeksi pada tubuh.

Sirosis hati terjadi karena kerusakan pada hati. Hati mencoba memperbaiki masalah dalam tubuh setiap kali bermasalah. Sirosis hati menyebabkan luka yang bentuknya seperti tisu. Jika sirosis hati terus terjadi, maka luka di dalam tubuh semakin membesar, dan hati akan kesulitan untuk memperbaikinya.

Penyakit ini justru mengancam nyawa manusia jika tidak ditangani dengan pengobatan yang tepat. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami sirosis hati perlu didiagnosis lebih awal untuk menemukan solusi yang bisa ditawarkan.

Gejala

Pada awalnya, seseorang tidak merasakan gejala apapun. Namun ketika waktu berlalu, kondisi pada hati memburuk sehingga gejala yang kemungkinan akan muncul antara lain:

  • Kelelahan.
  • Kebingungan.
  • Memar hingga berdarah.
  • Kehilangan berat badan.
  • Gatal-gatal.
  • Kaki bengkak.
  • Kehilangan nafsu untuk melakukan seks.
  • Telapak tangan merah.
  • Kekuningan pada warna kulit.

Penyebab

Penyebab terjadinya sirosis antara lain:

  • Konsumsi alkohol secara berlebihan.
  • Obesitas.
  • Hepatitis B dan C dalam jangka panjang.
  • Kerusakan empedu.
  • Kelainan pencernaan.
  • Infeksi seperti sifilis.
  • Penggunaan obat berupa metrotreksat atau isoniazid.

Komplikasi

Jika Anda mengalami sirosis hati, komplikasi yang kemungkinan terjadi pada tubuh, antara lain:

  • Tekanan darah tinggi

Sirosis memperlambat aliran darah melalui hati sehingga menyebabkan tekanan pada hati.

  • Pembengkakan pada kaki dan perut

Pembengkakan disebabkan karena tekanan pada vena porta yang meningkat sehingga cairan menumpuk pada bagian kaki dan perut.

  • Pendarahan

Hipertensi portal mengalihkan darah ke vena yang lebih kecil sehingga menyebabkan tekanan dan pendarahan yang serius. Jika hati tidak dapat membekukan pendarahan, pendarahan akan terus berlanjut.

  • Infeksi

Sirosis menyebabkan tubuh kesulitan melawan infeksi.

  • Malnutrisi

Sirosis hati juga menyebabkan tubuh kesulitan mencerna nutrisi sehingga seseorang mengalami penurunan berat badan.

Diagnosis

Jika Anda mengalami sirosis hati, Anda sebaiknya konsultasikan masalah tersebut dengan dokter. Dokter akan meminta Anda untuk melakukan diagnosis terlebih dahulu untuk mengetahui penyebabnya berasal dari mana dan seberapa parah yang kemungkinan dialami oleh manusia.

Dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan berupa tes darah dan radiologi (meliputi USG, CT scan, atau MRI scan). Selain itu, dokter juga menganjurkan untuk melakukan biopsi hati dengan cara mengambil contoh sel hati yang kemudian diuji melalui mikroskop. Endoskopi juga dapat digunakan untuk mengevaluasi jika terindikasi penyakit sirosis hati.

Perawatan

Walaupun penyakit sirosis hati tidak dapat disembuhkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atau memperlambat penyakit tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah obat antivirus jika mengalami infeksi hepatitis C.

Selain itu, gaya hidup yang Anda perlu ubah antara lain:

  • Jangan mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Anda sebaiknya jaga pola makan dengan buah-buahan dan sayuran, makanan yang kaya akan serat dan protein, dan kurangi makanan berlemak dan minuman yang mengandung kafein.
  • Anda juga perlu menjaga berat badan ideal karena lemak yang ada di dalam tubuh dapat merusak hati.

Jika Anda telah melakukan perawatan atau pencegahan sirosis hati yang tercantum di atas, namun kondisi pada tubuh semakin memburuk, Anda sebaiknya hubungi dokter dan minta instruksi dari dokter untuk perawatan yang tepat. Mungkin saja Anda perlu operasi karena penyakit lain yang membahayakan tubuh yang melibatkan sirosis hati.

Obat Batuk Anak yang Aman untuk Usia 1 Tahun

Batuk pada anak usia 1 tahun ke bawah, memang sering membuat orang tua khawatir. Apalagi jika Si Kecil menjadi susah tidur dan tidak cerah seperti biasa. Kalau sudah seperti ini, biasanya orang tua segera mencarikan obat batuk anak supaya batuk cepat sembuh.

Batuk sebenarnya dapat menghilang dengan sendiriya tanpa obat sekalipun. Namun, hal yang harus dilakukan oleh orang tua agat anak cepat sembuh adalah dengan memastikan kebutuhan cairan Si Kecil tetap terpenuhi dan waktu tidurnya cukup.

Oleh karena itu, Anda tidak perlu memberikan obat batuk, apalagi antibiotik saat anak batuk. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), anak di bawah usia 4 tahun tidak menggunkan obat batuk. Sebagai alternatif, Anda bisa memberikan beragam pengobatan alami saat anak mengalami batuk.

  • Madu

Berikanlah satu sendok madu per hari, atau sesuai dengan kebutuhan. Madu dapat membantu dalam mengencerkan dahak. Dengan ini tingkat keparahan batuk anak juga bisa berkurang.

Efek madu mirip dengan obat batuk jenis dextromethorphan dalam menekan batuk, sehingga anak bisa tidur dengan tenang. Namun harap diingat bahwa konsumsi madu juga memiliki efek samping. Pada beberapa anak di atas 1 tahun, madu dapat memicu sakit perut, mual, dan muntah.

  • Sup ayam

Tahukah Anda bahwa sup ayam mengandung senyawa antiperadangan? Karena itu, hidangan ini baik sebagai salah satu obat batuk anak 1 tahun yang alami. Suhu sup yang hangat juga berfungsi sebagai alat penguap (vaporizer).

Uap ini dapat pula membantu dalam mengencerkan lendir di saluran hidung. Selain hangat, sup ayam mengandung antiradang yang bisa meringankan batuk, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan.

  • Menggunakan humidifier

Jika Anda memiliki humidifier atau alat pelembap udara, manfaatkanlah dengan meletakkannya di kamar anak. Alat ini dapat membantu dalam melegakan pernapasan anak ketika batuk pilek. Buah hati pun bisa tidur dengan nyaman. Air humidifier bisa membantu mencegah kekeringan pada mukosa hidung dan saluran pernapasan sehingga terhindar dari iritasi.

  • Bantal tambahan

Pada anak yang sedang batuk, Anda bisa berikan bantal tambahan saat anak tidur agar posisi kepalanya lebih tinggi. Dengan melakukan cara ini, saluran napasnya akan terbuka dan lendir bisa keluar dengan mudah.

  • Larutan saline

Beberapa tetes larutan saline juga bisa menjadi alternatif obat batuk anak usia 1 tahun. Caranya cukup teteskan larutan saline ke lubang hidung anak, lalu isap dengan alat khusus pengisap lendir yang bisa Anda beli di Apotek.

Rekomendasi diatas bukanlah pengobatan utama saat anak batuk, Anda tetap harus ke dokter, jika kondisi batuk Si Kecil di diiringi dengan batuk berdarah, demam di atas 40 derajat celsius dan kesulitan bernapas saat tidak batuk.

Mengatasi Rasa Sakit Akibat Skiatika dan Pencegahannya

Skiatika adalah rasa sakit yang terjadi dan berawal di punggung bagian bawah. Rasa sakit ini kemudian akan menjalar ke pinggang, pantat, dan kaki. Skiatika terjadi ketika akar saraf yang membuat saraf siatik terjepit. Skiatika biasanya hanya memberikan dampak pada satu sisi tubuh saja. Skiatika dapat menjadi sebuah kondisi yang akut ataupun kronis. Skiatika akut dapat bertahan sekitar 1 hingga 2 minggu dan biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Apabila Anda merasa mati rasa setelah rasa sakit hilang, hal ini merupakan sesuatu hal yang wajar. Anda bisa mendapatkan skiatika beberapa kali dalam satu tahun. Skiatika akut bisa berubah menjadi kronis. Ini berarti rasa sakit akan sering muncul secara teratur. Skiatika kronis merupakan kondisi seumur hidup. Perawatan yang ada saat ini belum bisa mengobatinya dengan rasa sakit skiatika kronis lebih parah dibandingkan skiatika akut.

Mengatasi rasa sakit akibat skiatika

Bagi sebagian orang, skiatika dapat diobati dengan merawat diri. Beristirahatlah beberapa hari setelah rasa sakit muncul. Namun jangan beristirahat terlalu lama dan mulai beraktivitas setelah rasa sakit mulai hilang. Kurang aktif dalam waktu yang lama dapat menyebabkan gejala yang ditimbulkan berubah semakin parah. Menggunakan kompres dingin atau panas pada bagian punggung bawah juga dapat meredakan rasa sakit sementara. Obat-obotan bebas seperti aspirin dan ibuprofen dapat membantu mengurangi peradangan, bengkak, dan mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan.

Apabila gejala yang muncul dirasa semakin parah dan pengobatan alternatif rumahan tidak dapat mengurangi rasa sakit skiatika, segera hubungi dokter.Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk mengurangi gejala yang Anda rasakan seperti obat anti-inflamasi, pelemas otot (bila kejang muncul), obat-obatan anti kejang, dan obat bius bagi kasus-kasus yang lebih parah.

Apabila gejala yang ditimbulkan terasa mulai membaik, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk ikut terapi fisik. Terapi fisik dapat membantu mencegah kambuhnya skiatika di kemudian hari dengan cara memperkuat otot punggung dan otot inti. Dokter juga mungkin akan menyarankan suntikan steroid. Ketika disuntikkan di sekitar saraf yang terkena skiatika, steroid akan mengurangi peradangan dan tekanan pada saraf. Namun, Anda hanya bisa mendapatkan suntikan steroid dalam jumlah yang terbatas, karena ada risiko efek samping yang parah.

Operasi juga bisa dilakukan sebagai jalan terakhir terutama apabila rasa sakit tidak menghilang setelah perawatan-perawatan tersebut di atas dilakukan. Operasi juga bisa dijadikan pilihan utama apabila skiatika membuat Anda tidak bisa mengontrol kandung kemih dan usus.

Perubahan gaya hidup cegah skiatika kambuh

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah skiatika kambuh di kemudian hari. Pastikan Anda olahraga atau latihan setiap harinya untuk memperkuat punggung Anda. Saat duduk, Anda jugar harus menjaga postur tubuh yang sehat dan ideal. Hindari membungkuk saat mengangkat beban yang berat, dan berjongkoklah terlebih dahulu ketika Anda ingin mengangkat sesuatu. Berlatihlah untuk menjaga postur tubuh yang baik saat Anda berdiri dalam waktu yang lama. Terakhir dan tidak kalah pentingnya, jaga dan lakukan diet yang sehat. Obesitas dan diabetes merupakan faktor risika skiatika.

Meskipun dalam banyak kasus skiatika akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa waktu, segera hubungi dokter apabila gejala yang ditimbulkan tidak hilang meskipun sudah mendapatkan perawatan. Selain itu, jika skiatika sudah terjadi selama lebih dari satu minggu dengan rasa sakit yang semakin parah, hubungi dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Manfaat Menyikat Gigi bagi Kesehatan Otak

Menggosok gigi tidak hanya membuat gigi bersih dan napas segar, tapi juga memiliki efek positif bagi kesehatan otak jangka panjang. Penelitian membuktikan bahwa menyikat gigi dan membersihkan gigi dengan benang (flossing) membantu mencegah stroke.

Riset yang dilakukan sekelompok peneliti dari University of Heidelberg di Jerman ini sejalan dengan studi sebelumnya. Penelitian terdahulu menyatakan, penyakit gusi akut atau periodontitis berhubungan dengan pengerasan saluran arteri dan penyakit jantung. Armin J. Grau, anggota tim penelitian, menyebut penelitian mereka mengungkap hubungan antara periodontitis dan stroke.

Grau menyuguhkan temuan awal penelitian timnya pada konferensi internasional American Stroke Association. Riset dirancang untuk memeriksa 300 pasien stroke dengan penyumbatan aliran darah ke otak, dan 600 orang tanpa stroke sebagai perbandingan.

Jarang Menyikat Gigi Bisa Picu Stroke?

Hubungan antara kesehatan gigi dan stroke dijabarkan lewat penjelasan berikut. Malas menggosok gigi bisa menimbulkan plak, kemunculan bakteri berlebih. Bakterinya dikenal dengan Porphyromonas Gingivalis. Dalam jumlah besar dan waktu lama, bakteri ini mengakibatkan periodontitis dan peradangan gusi.

Periodontitis merupakan infeksi yang merusak gusi, tepatnya di membran pangkal gigi dan tulang penyangga gigi. Bakteri penyebab peradangan dan infeksi dapat menyusup ke aliran darah. Jika terjadi di rongga mulut, bakteri itu membuat penumpukan plak. Sementara itu pada aliran darah, bakteri menyebabkan penggumpalan darah.

Penelitian Grau dan rekan-rekannya mendapati sepertiga pasien stroke juga menderita periodontitis akut. Korelasi antara stroke dan periodontitis, Grau melanjutkan, memiliki kecenderungan meningkat, dibanding faktor pendorong lain dari stroke, seperti serangan stroke sebelumnya, tekanan darah tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, dan status sosial ekonomi.

Porphyromonas Gingivalis juga bisa jadi pemicu timbulnya penyakit lain, termasuk demensia, diabetes rematik, dan kelahiran prematur. Serupa dengan stroke, bakteri ini menyusup lewat jaringan darah dan bersarang di organ-organ lain.

Penderita Penyakit Gusi Rentan terhadap Stroke

Profesor Maurizio Trevisan, ketua kedokteran sosial dan pencegahan penyakit di University at Buffalo, New York, melakukan penelitian terpisah. Trevisan dan timnya mendapati orang dengan penyakit gusi akut, dua kali lebih berisiko terserang stroke akibat penggumpalan darah, dibanding orang dengan kesehatan rongga mulut yang baik.

Penelitian ini didorong oleh kesimpulan bahwa pasien penyakit jantung memiliki kecenderungan tinggi mengalami sakit gusi akut. “Ternyata, bukan hanya penyakit jantung. Hubungan periodontitis dengan stroke lebih tinggi,” kata Trevisan.

Riset lain juga membuktikan bahwa merawat gigi dan gusi dapat melindungi otak dan memori kita. Dengan meneliti data selama 25 tahun, peneliti menemukan, frekuensi masalah kesehatan mulut banyak ditemukan di pasien demensia.