Seberapa Besar Pengaruh Genetik Sebabkan Hipertensi pada Anak?

Hipertensi pada anak dapat dipicu oleh berbagai faktor

Banyak sekali kondisi medis berbahaya bermula atau dipicu oleh hipertensi atau tekanan darah tinggi. Biasanya, penderitanya adalah orang dewasa atau tua yang telah memiliki faktor risiko semenjak muda. Namun, tahukah Anda jika kasus hipertensi pada anak sering juga terjadi?

Anak-anak yang menderita hipertensi disebut-sebut sudah dapat menunjukkan kondisinya sejak mereka masih balita. Anak bayi pun memiliki potensi menderita hipertensi, meski kemungkinannya hanya 1 sampai 2 persen saja. Oleh karenanya, dalam kasus ini, orang tua dituntut lebih peka dan memahami betul kondisi anaknya agar dapat dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi di mana tekanan darah seseorang berada di atas ambang normal. Jika biasanya berada di angka 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg, pengidap hipertensi memiliki tekanan darah hingga bahkan melebihi 140/90 mmHg sampai dengan 180/120 mmHg.

Secara garis besar, hipertensi dibagi ke dalam dua kelompok, pertama hipertensi primer yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Kelompok kedua adalah hipertensi sekunder yang disebabkan karena faktor kelainan ginjal atau obesitas. Adapun 60-70 persen kasus hipertensi yang dialami anak adalah hipertensi sekunder.

Sedangkan faktor genetik atau faktor keturunan di balik hipertensi pada anak ini memiliki persentase yang tak bisa diabaikan. Kemungkinannya menyentuh angka 20 hingga 30 persen kasus.

Faktor genetik atau keturunan dari orang tua terhadap hipertensi pada anak ini dikelompokkan ke dalam kelompok hipertensi primer. Faktor keturunan inilah yang biasanya ditanyai paling awal oleh dokter ketika ada orang tua yang memeriksakan anaknya terkait kemungkinan tekanan darah tinggi. Riwayat penyakit orang tua, seperti memiliki penyakit ginjal atau tidak amat penting untuk diagnosis awal.

  • Hati-Hati Faktor Penyebab Lain

Hipertensi pada anak yang paling sering terjadi karena faktor kelainan pada ginjal, penyempitan pembuluh darah di ginjal, penyempitan aorta jantung, dan juga bisa disebabkan oleh kelainan bawaan ginjal dan saluran kemih. 

Ini biasanya yang sering dialami oleh bayi. Semua kelainan bawaan pada bayi, jadi bisa disebabkan oleh kelainan endokrin misalnya, hipertiroid itu bisa menyebabkan hipertensi

Kendati demikian, orang tua tidak seharusnya panik berlebihan karena hipertensi pada anak bisa diatasi dengan baik. Yang perlu dilakukan orang tua adalah sesegera mungkin memeriksakan anak ke dokter, terutama bila Anda dan/atau pasangan memang memiliki penyakit hipertensi. Bila anak dinyatakan mengalaminya, dokter kemungkinan akan menyarankan anak untuk menjalani dua pengobatan sekaligus yakni non-farmakologi dan farmakologi.

Non-farmakologi berkaitan dengan gaya hidup anak. Dokter akan mewanti-wanti orang tua untuk menjaga betul gaya hidup anak mereka. Sebagai contoh, semisal anak mengalami obesitas, orang tua diminta untuk mengupayakan penurunan berat badan dengan melakukan beragam olahraga secara teratur hingga menjaga pola makan. Bila masih belum ada perubahan yang signifikan atau tensi darahnya masih tinggi, barulah diberikan obat-obatan anti-hipertensi.

Bila sudah melakukan beberapa upaya di atas, biasanya dokter akan meminta orang tua dan anak untuk melakukan kontrol secara rutin. Dokter mungkin akan melakukan upaya-upaya medis lain agar hipertensi pada anak dapat diatasi dengan maksimal.

Namun, yang paling penting dalam kasus hipertensi pada anak ini bahwa upaya tidak difokuskan pada penurunan tekanan darahnya saja, lebih jauh dari itu adalah perubahan gaya hidup agar ke depannya, masalah ini tak lagi muncul dan membahayakan kondisinya.

Muncul Bercak Keunguan di Sekitar Mata? Waspada Amiloidosis

Istilah amiloidosis mungkin terdengar kurang familiar di telinga Anda. Walaupun begitu, kondisi ini juga tidak boleh disepelekan. Pasalnya, amiloidosis yang disebabkan oleh penumpukan protein abnormal, amiloid, dapat menyebabkan perubahan bentuk dan kerja organ tubuh. Tidak jarang, amiloidosis bahkan dapat berdampak pada kondisi jantung, ginjal, hati, limpa, sistem saraf pusat, dan sistem pencernaan.

Amiloidosis tergolong sebagai kelainan langka yang dapat menjadi masalah kesehatan serius. Dalam kasus tertentu, kondisi ini dapat membahayakan nyawa seseorang. Sayangnya, gejala amiloidosis ini baru dapat muncul ketika telah memasuki tahap yang lebih serius. Gejala yang ditimbulkan juga dapat dikatakan tidak signifikan dan tidak memiliki ciri khas tertentu.

Tanda dan gejala amiloidosis yang perlu diperhatikan

Terdapat beberapa kemungkinan tanda dan gejala amiloidosis yang perlu Anda perhatikan:

  • Adanya pembengkakan pada pergelangan kaki dan kaki.
  • Merasakan lelah dan lemah tubuh yang tidak biasa.
  • Seringkali merasa kebas, kesemutan, maupun nyeri pada tangan, terutama pada pergelangan tangan atau kaki.
  • Penurunan berat badan yang cukup drastis bukan akibat diet tertentu.
  • Lidah membengkak dan mengalami kesulitan ketika menelan.
  • Adanya perubahan tekstur kulit, seperti menebal atau bahkan mudah memar serta munculnya bercak berwarna keunguan di sekitar area mata.
  • Diare yang disertai darah atau sembelit.

Apa yang menyebabkan amiloidosis?

Telah disebutkan bahwa amiloidosis disebabkan oleh penumpukan protein abnormal yang disebut amiloid. Amiloid ini diproduksi oleh sumsum tulang. Ada pun penyebab amiloidosis tergantung berdasarkan tipe amiloidosis yang dialami, seperti:

  • Amiloidosis tipe AL (amiloidosis primer): jenis amiloidosis yang sering terjadi yang dialami oleh kelompok usia 60-70 tahun. Kondisi ini disebabkan oleh produksi antibodi abnormal oleh sumsum tulang belakang yang tidak dapat dihancurkan. Antibodi yang diproduksi tersebut tersimpan dalam tubuh sebagai amiloid.
  • Amiloidosis tipe AA (amiloidosis sekunder): kondisi ini rentan menyerang organ ginjal, sistem pencernaan, hati, dan juga jantung. Tipe AA ini dipicu karena infeksi dan peradangan kronis, seperti penyakit sendi rematik.
  • Amiloidosis keturunan: jenis amiloidosis yang disebabkan oleh faktor genetik dan rawan menyerang saraf, hati, dan ginjal.
  • Amiloidosis akibat cuci darah: tipe ini terjadi akibat protein yang tersimpan di darah dalam persendian dan tendon. Kondisi ini akan mengakibatkan rasa nyeri, kaku, dan carpal tunnel syndrome. Pasien cuci darah yang telah melakukan prosedur tersebut dalam jangka waktu yang panjang, berisiko terkena amiloidosis jenis ini.

Pencegahan dan Penanganan Hellp Syndrome

Hellp Syndrome merupakan gangguan pada organ hati dan darah yang terjadi pada perempuan hamil dan sering dikaitkan dengan preeklampsia. Kondisi ini akan muncul dan biasa terjadi setelah usia kehamilan memasuki 20 minggu, jika tidak diatasi dengan segera sindrom ini bisa mengancam nyawa perempuan yang hamil tersebut.

Hellp merupakan singkatan dari Hemolisis (H) adalah kerusakan sel darah merah, Elevated liver enzyms (EL) merupakan peningkatan produksi enzim hati yang diakibatkan pada ganguan sel hati, sementara Low Platelet (LP) merupakan jumlah platelet atau juga dikenal dengan nama trombosit yang terlalu rendah sehingga menyebabkan gangguan pada proses pembekuan darah.

Pencegahan Hellp Syndrome

Usia menjadi faktor utama munculnya sindrom ini, biasanya oleh perempuan yang sudah berusia 34 tahun ke atas. Tak hanya itu, risiko munculnya kondisi ini juga dapat terjadi jika perempuan tengah hamil anak kembar dan riwayat keluarga yang pernah mengalami sindrom ini sebelumnya. Selain itu, beberapa kondisi seperti obesitas, tekanan darah tinggi dan lain sebagainya bisa menjadi penyebab.

Dalam banyak kasus kehamilan, sindrom ini tidak bisa dicegah dikarenakan penyebab yang tidak diketahui. Namun, terdapat beberapa cara yang bisa dipakai untuk mencegah ibu hamil terkena sindrom ini. Cara ini bisa dilakukan ibu hamil untuk menurunkan risiko mengalami kondisi ini, berikut beberapa di antaranya.

  • Menerapkan gaya hidup sehat, mengonsumsi berbagai jenis makanan sehat seperti sayuran, buah, protein dan gandum utuh.
  • Selain mengonsumsi makanan bergizi, gaya hidup sehat juga perlu diimbangi dengan berolahraga secara teratur dan rutin, olahraga bisa menghindarkan dari diabetes dan hipertensi.
  • Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, tentunya sesuai denga jadwal yang sudah ditentukan oleh dokter atau bidan.
  • Konsultasikan ke dokter atau bidan jika mengalami beberapa gejala sindrom hellp ini, atau mengalami preeklamsia, eklamsia agar bisa segera ditangani.

Penanganan Sindrom Hellp

Pemeriksaan fisik umumnya akan dilakukan oleh para dokter pada saat pasien melakukan konsultasi, selain itu dilanjutkan dengan pemeriksaan lain seperti tes urine guna melihat kebocoran protein dan tes darah untuk mengevaluasi fungsi hati serta jumlah trombosit. Kemungkinan dilakukan tes MRI juga diperlukan, tujuannya untuk melihat kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan ibu hamil ternyata mengalami kondisi sindrom tersebut, dampak dan konsekuensi dari ibu hamil yang berada dalam kondisi ini adalah melahirkan bayi secara prematur. Cara ini dipilih untuk mencegah terjadinya komplikasi serius yang bisa membahayakan kondisi ibu dan bayi.

Meski demikian, langkah medis lain bisa diambil oleh dokter apabila usia kehamilan masih kurang dari 34 minggu. Dokter kemungkinan akan menyarankan ibu hamil melakukan terminasi kehamilan yang meliputi beberapa cara berikut ini, metode yang ada bisa dilakukan di rumah sakit agar kondisi ibu terpantau oleh dokter.

  • Bed rest atau tirah baring dengan perawatan di rumah sakit, tujuannya agar kesehatan ibu dan janin terjaga dengan baik.
  • Transfusi darah dilakukan jika jumlah trombosit terlalu rendah dan menimbulkan risiko perdarahan pada ibu hamil.
  • Pemberian kortikosteroid yang berfungsi mempercepat pematangan paru-paru bayi sebelum lahir dan bisa berfungsi baik setelah lahir.
  • Pemberian magnesium sulfat, tujuannya adalah untuk emncegah terjadinya eklamsia disertai dengan pemberian obat penurun tekanan darah.
  • Langkah yang terakhir adalah pemantauan dan juga evaluasi yang memungkinkan ibu hamil mengalami kondisi gawat janin.

Perempuan yang sebelumnya pernah mengalami Hellp Syndrome kemungkinan besar berisiko tinggi mengalami komplikasi selama kehamilan. Pastikan dokter yang menangani kondisi ini mengetahui seluruh riwayat kesehatan dan kehamilan pasien sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

Skrining TBC, Apa dan Kapan Anda Membutuhkannya?

Tahun 2019 lalu, Kementerian Kesehatan RI melaksanakan skrining TBC di berbagai tempat yang dianggap berpotensi sebagai area penularan TBC. Beberapa lokasi yang dipilih adalah pondok pesantren, asrama TNI dan POLRI, serta lembaga pemasyarakatan. Lebih dari 400 ribu orang menjalani pemeriksaan dan 35 ribu di antaranya diduga menderita TBC.

Beberapa ahli bahkan mengklaim, di negara dengan kualitas sanitasi seperti Indonesia, sebagian besar masyarakat diduga memiliki bakteri TB di dalam tubuhnya. Jika tidak ada gejala yang muncul, kemungkinan karena bakteri tersebut dalam posisi tidur atau dormant. Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri dapat aktif dengan segera.

Maka, penting sekali untuk dilakukan skrining TBC, agar upaya-upaya penanganan yang tepat dapat dilakukan.

Skrining TBC, apakah itu?

Dengan skrining TBC dapat diketahui apakah seseorang terinfeksi bakteri tuberkulosis (TBC) atau tidak. Infeksi ini sering kali menyerang paru-paru, namun tidak terbatas pada organ tersebut. Ginjal, tulang belakang, dan otak dapat diserang oleh bakteri TBC. Itu sebabnya, infeksi ini dikategorikan sebagai infeksi yang sangat serius.

Pada beberapa orang, infeksi ini tidak menimbulkan gejala atau disebut dengan TBC laten. Seperti disebutkan sebelumnya, TBC laten dapat menjadi TBC aktif saat daya tahan tubuh menurun. Dan pada periode ini, pasien dapat menularkannya kepada orang lain.

Pemeriksaan yang sangat seksama pun dibutuhkan. Skrining TBC pada anak-anak, biasanya dilakukan dengan tes Mantoux, sedang pada orang dewasa dilakukan dengan tes dahak dan rontgen dada.

Tes Mantoux

Tes mantoux merupakan skrining TBC yang umum dilakukan pada anak-anak. Dalam prosesnya, pemeriksaan ini dilakukan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, dokter akan menyuntikkan purified protein derivative (PPD)ke bawah kulit pasien. Umumnya, PPD atau yang lebih dikenal dengan istilah tuberkulin ini disuntikkan di bagian lengan.

Setelah proses penyuntikkan tuberkulin, muncul benjolan kecil berwarna pucat pada area bekas suntikan.

Tahap berikutnya, dalam 24-72 jam, dokter akan melihat reaksi yang muncul terhadap tuberkulin. Adanya reaksi kulit yang timbul menandakan bahwa pasien telah terinfeksi bakteri TBC. Rentang waktu tersebut, harus presisi. Jika pasien baru datang kembali setelah 72 jam, maka tes mantoux perlu diulangi.

Sementara, bila tidak ditemukan reaksi pada kulit dan tes ini merupakan tes pertama pasien, maka pemeriksaan perlu diulangi dalam 1-3 minggu berikutnya. Tujuannya, untuk memastikan bahwa hasil skrining TBC tersebut benar-benar negatif.

Rontgen dada

Pada prinsipnya, prosedur ini menyerupai prosedur rontgen secara umum. Dada pasien akan diperiksa di bawah sinar X dan hasilnya akan diinterpretasi oleh dokter ahli radiologi. Dalam hal ini, dokter ahli radiologi akan mencari ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi TBC.

Pemeriksaan dahak

Pasien yang menjalani skrining TBC dengan pemeriksaan dahak, akan diminta batuk hingga mengeluarkan dahak. Pengambilan sampel dahak ini dilakukan pada pagi hari.  Ke dalam wadah yang sebelumnya telah diberikan kepada pasien, dahak tersebut ditampung. Nantinya, dahak tersebut akan diperiksa di laboratorium.

Dahak akan disimpan di dalam wadah khusus yang berisi nutrisi bagi bakteri. Selanjutnya, bakteri yang tumbuh akan dianalisis agar diketahui apakah di antaranya terdapat bakteri TBC atau tidak.

Kondisi yang memerlukan skrining TBC

Tidak ada orang yang ingin terinfeksi bakteri TBC. Dan sebagian besar orang mungkin bersedia menjalani skrining TBC, demi memperoleh perawatan yang tepat. Namun, pertanyaannya, kapan kita perlu menimbang untuk melakukan pemeriksaan TBC?

Anda sebaiknya berkunjung ke dokter dan menjalani skrining TBC jika mengalami batuk terus-menerus selama 2 minggu, mengalami batuk berdarah, nyeri dada, demam, berkeringat di malam hari, sering merasa kelelahan, dan berat badan Anda menurun tanpa ada penyebab yang jelas.

Label BPA Free Tidak Menjamin Botolmu Bebas Penyakit

Hampir sebagian perangkat kita sehari-hari dibuat dari berbagai bahan kimia. Beberapa di antaranya ada yang tidak baik untuk kesehatan. Salah satu bahan kimia tersebut adalah bisphenol-A (BPA). Salah satu hal penting yang harus diperhatikan terkait BPA ini adalah penggunaannya di perangkat makan kita, sebab kontaminasi zat itu bisa menyebabkan penyakit. Oleh karenanya, pastikan semua perangkat makan kita memiliki label BPA free.

Bisphenol-A digunakan untuk membuat wadah atau perangkat makan kita kuat dan tidak mudah bocor. Namun, BPA bisa mengkontaminasi makanan atau minuman yang disimpan di dalam wadah tersebut. Ketika BPA masuk ke tubuh manusia, maka berbagai masalah kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang dapat terjadi, baik pada orang dewasa, anak-anak, bahkan janin.

Akan tetapi bahaya tidak berhenti sampai di situ saja. Meski wadah atau perangkat makan dan minum kita memiliki label BPA free, kemungkinan makanan atau minuman terkontaminasi zat berbahaya masih tetap ada. Beberapa kebiasaan di bawah inilah penyebab-penyebabnya:

  1. Tidak Rajin Mencuci Botol

Walaupun hanya diisi air putih, biasakan untuk mencuci botol minum Anda setidaknya sehari sekali. Sama seperti gelas yang kita pakai untuk minum, pinggiran botol minum yang tidak dibersihkan bisa menjadi ladang bakteri. Bagian dalam botol yang jarang dibersihkan juga akan ditumbuhi jamur, sehingga akan berdampak pada kehigienisan bahkan rasa dari minuman Anda. Anda bisa saja terkena diare karena kebiasaan buruk yang satu ini.

  • Mengisi Air Minum dalam Keadaan Basah

Ketika kita telah rajin mencuci wadah makanan dan minuman sebaiknya pastikan mereka telah kering secara sempurna sebelum menggunakannya lagi. Sebab botol minum atau tempat makan yang masih basah bisa membuat bakteri dan jamur tumbuh. Hal ini berkaitan dengan sifat bakteri dan jamur yang mudah tumbuh dalam keadaan lembap. Bagian penutup botol merupakan tempat paling favorit untuk bakteri berkembang biak, saat botol minum dipakai dalam keadaan lembap atau basah.

  • Tidak Mencuci Botol dengan Benar

Selain memiliki label BPA free, perawatan wadah itu sendiri memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan Anda. Mencuci wadah makan atau minuman hanya dengan air tak menjamin bakteri atau jamur mati seketika. Menurut para ahli, cara terbaik untuk membersihkan botol minum, terutama bagian dalamnya adalah dengan menggunakan campuran air panas dengan baking soda atau cuka. Hal ini akan mengangkat jamur, serta menghilangkan bau dari botol minum. Setelahnya, barulah bersihkan kembali dengan sabun dan bilas hingga bersih. Jangan lupa gunakan sikat pembersih, untuk menjangkau bagian yang susah dibersihkan dengan tanganmu.

  • Tidak Teliti Sewaktu Mengeringkan

Botol minum biasanya terdiri dari beberapa bagian, yang paling umum tentu saja bagian badan dan penutup botolnya. Setelah kamu mencuci bersih tiap bagiannya, botol minum jangan lansung dipasang, kemudian dikeringkan. Bukannya kering, sisa air pembersih pada bagian botol minum malah akan menumpuk. Biarkan masing-masing bagian botol kering terlebih dahulu, sebelum kamu memasangkannya kembali.

  • Bau dan Perubahan Warna Tanda untuk Segera Cari Pengganti

Seorang ahli kesehatan menyebutkan bahwa perubahan warna, rasa, hingga bentuk seperti retakan pada botol minum, hanya akan membuat meningkatnya jumlah bakteri di area tersebut.

Artinya, jika wadah makanan atau minuman Anda telah berbau dan melihatkan perubahan warna atau bentuk, segeralah beralih dan cari pengganti. Jangan gunakan wadah yang telah usang. Sebab, selain akan “merusak” rasa dari makanan atau minuman Anda, tidak ada jaminan pula isi di dalamnya akan bebas dari zat-zat berbahaya.

***

Itulah beberapa kebiasaan buruk yang bisa juga membuat wadah tempat makan atau minuman Anda menjadi sebab dari memburuknya kondisi kesehatan. Jadi, jangan hanya terpaku dengan label BPA free, perawatan yang baik dan benar juga bisa menjadi upaya Anda terhindar dari berbagai penyakit.

Hal Penting bagi Ibu Menyusui di Tengah Pandemi Corona

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) masih terus berlangsung hingga saat ini. Tragedi itu melumpuhkan beberapa sendi kehidupan sekaligus mengubah banyak tatanan yang sudah mapan. Banyak kelompok orang berada di dalam situasi dilematis, salah satunya ibu menyusui.

Virus corona menyebar dan dapat menginfeksi seseorang melalui droplet atau percikan cairan dari mulut maupun hidung. Oleh karenanya, phsycal distancing atau pembatasan fisik (menjaga jarak) menjadi prosedur yang ditetapkan untuk memutus rantai persebaran virus tersebut. Masalahnya, bagaimana ibu bisa menyusui bayinya jika harus menjaga jarak. Kondisi itu bertambah rumit ketika sang ibu, yang tengah menyusui itu, masuk ke dalam daftar pasien covid-19.

Untuk mengatasi itu, banyak organisasi kesehatan masyarakat merekomendasikan ibu dan bayi tetap bersama, kendati si ibu positif corona. Pasalnya, biar bagaimanapun si bayi harus tetap mendapatkan asupan ASI dalam masa-masa menyusui tersebut untuk menunjang kehidupannya.

Situasi ini berhasil memaksa organisasi kesehatan untuk membuat prosedur untuk mengatasi dilema ini. Ada yang menyarankan pasien covid-19 yang berstatus sebagai ibu menyusui dipisahkan dengan pasien lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Tujuannya agar ibu masih dapat menyusui bayinya tanpa mengorbankan kesehatan si bayi dari orang-orang selain ibunya.

Lain lagi pandangan dari Academy of Breastfeeding Medicine. Alison Stuebe, MD, sang presiden memengungkapkan bahwa ada banyak risiko yang bakal diterima bayi jika ia harus dipisahkan dari ibunya.

Dalam komentarnya, Dr. Stuebe, mencatat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemisahan antara bayi dan ibu dengan dugaan atau konfirmasi Covid-19 bisa “menyelamatkan” si bayi.

Memang pemisahan ini bisa meminimalisir risiko penularan virus dari ibu ke bayi selama tinggal di rumah sakit. Namun itu memiliki potensi konsekuensi negatif bagi ibu dan bayi, demikian komentar yang diterbitkan dalam Breastfeeding Medicine, jurnal resmi dari Academy of Breastfeeding Medicine.

Dr. Stuebe menguraikan beberapa risiko memisahkan ibu dan bayi di rumah sakit, yang mengganggu pemberian ASI dan kontak kulit ke kulit selama jam dan hari-hari kritis setelah kelahiran. Sebagai contoh, bayi yang kekurangan kontak kulit dengan ibu mereka cenderung memiliki detak jantung dan pernapasan yang lebih tinggi dan kadar glukosa yang lebih rendah.

Perpisahan itu juga bisa membuat mental dan kondisi psikologis ibu tertekan, yang mana bisa membuatnya lebih sulit untuk melawan infeksi virus corona. Selain itu, pemisahan mengganggu pemberian ASI kepada bayi, yang penting untuk perkembangan sistem kekebalan bayi. Pemisahan juga mengganggu pemberian ASI, yang menempatkan bayi pada peningkatan risiko infeksi pernapasan berat, termasuk pneumonia dan Covid-19.

  • Prosedur Pemberian ASI oleh Ibu Menyusui Terduga atau Positif Corona

Oleh karena pentingnya aktivitas menyusui bagi bayi maupun si ibu sendiri, kendati tengah dalam bayang-bayang virus corona, berikut beberapa prosedur yang disarankan untuk meminimalisir terjadinya penularan:

  • Untuk ibu yang memiliki gejala tapi masih bisa menyusui, tindakan pencegahan yang dimaksud adalah memakai masker ketika berada di sekitar anak (termasuk ketika sedang menyusui);
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan anak (termasuk menyusui);
  • Membersihkan/memberi desinfektan pada permukaan yang terkontaminasi – sebagaimana seharusnya dilakukan untuk tiap kali seseorang yang telah dikonfirmasi atau dicurigai terkena covid-19;
  • Jika kondisi ibu terlalu payah, maka disarankan untuk memerah ASI dan memberikannya ke anak melalui cangkir dan/atau sendok bersih – dan terus melakukan metode pencegahan penularan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

***

Itulah kiranya beberapa hal penting yang dapat diketahui menganai aktivitas ibu menyusui di tengah pandemic virus corona. Situasi ini memang berat dan amat dilematis, tetapi dengan prosedur yang benar dan aman, kemungkinan terjadinya penularan pada bayi pun bisa diminimalisir sehingga bayi tetap mendapatkan nutrisi dari sang ibu, dan sebaliknya, ibu tetap dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,

Rhinitis, Gangguan Indera Penciuman yang Mengganggu Kehidupan Anak

Apakah Anda pernah menemukan masalah pada indera penciuman anak Anda, biasanya ditandai seperti gejala flu, tetapi tak kunjung sembuh walau sudah diberikan obat? Ya, mungkin anak Anda terserang rhinitis.

Rhinitis adalah kondisi di mana terjadi peradangan di dalam rongga hidung. Siapa saja bisa mengalami, termasuk anak-anak. Jika benar, Anda harus waspada. Karena selain mengganggu aktivitas si kecil, bila anak sudah terserang rhinitis, biasanya dia akan semakin mudah terkena serangan serupa hingga usia dewasa.

Hal ini diketahui melalui data statistik yang dilansir American Academy of Allergy, Asthma & Immunology, “Rhinitis alergi yang timbul pada masa anak-anak biasanya menetap sampai usia dewasa, dan akan berkurang pada usia lanjut. Sekitar 15-25% penderita akan sembuh secara spontan setelah 5-7 tahun,” kata laporan tertulis itu.

Sebenarnya rhinitis dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, yakni rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi. Akan tetapi di lapangan, penyebab yang paling lazim adalah lantaran dipicu oleh alergen. Kira-kira perbedaannya dapat dipetakan seperti berikut:

  • Rhinitis alergi

Rhinitis alergi atau yang sering disebut dengan hay fever disebabkan oleh respons alergi terhadap alergen seperti serbuk sari, tungau, debu, air liur hewan peliharaan, bulu binatang peliharaan, dan lainnya. Rhinitis alergi terjadi akibat sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi zat tersebut sebagai zat asing sehingga menyebabkan peradangan pada lapisan hidung, yang meningkatkan sensitivitas saluran pernapasan.

  • Rhinitis nonalergi

Sedangkan rhinitis nonalergi disebabkan oleh mencakup bau tertentu di udara, perubahan cuaca, beberapa obat, makanan tertentu, dan kondisi kesehatan kronis. Rhinitis nonalergi dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa, tetapi lebih sering terjadi setelah usia 20 tahun.

Meski gejala yang ditampakkan anak-anak bisa berbeda-beda setelah terpapar alergen, tetapi umumnya mereka akan mengalami kondisi seperti:

  • Hidung berair atau tersumbat.
  • Bersin-bersin.
  • Mata yang gatal atau berair.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.

Kondisi-kondisi di atas memang akan sembuh dengan sendirinya dan cenderung dapat ditangani. Namun, ada beberapa kasus di mana keadaan itu tak kunjung membaik dan terus-menerus hinggap di tubuh anak Anda.

Situasi ini biasa disebut gejala parennial, dan gejala awal tadi terus berkembang. Beberapa anak-anak dapat menderita sinusitis, di mana rongga di tengkorak dekat dengan tulang pipi dan alis mata dipenuhi oleh cairan yang menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bahkan terkadang menyebabkan infeksi.

Anak kecil bisa berisiko mengembangkan telinga yang lengket (glue ear) sebagai komplikasi sinusitis karena tabung yang menghubungkan ke tenggorokan dan telinga berada di dekat tenggorokan yang tersumbat. Ini bisa juga menyebabkan gangguan pendengaran sementara.

Belum lagi pendarahan di hidung di mana itu merupakan gejala yang umum dari rhinitis alergi. Karena selaput hidung terasa gatal dan sering digosok atau tergoress.

Di sini kepekaan dan perhatian Anda amat dibutuhkan. Jangan ragu untuk segera memeriksakan anak Anda ke dokter jika:

  • Mengalami gejala-gejala yang terasa sangat mengganggu dan tidak kunjung membaik.
  • Obat alergi yang diminum tidak efektif atau justru memicu efek samping yang mengganggu.
  • Memiliki penyakit lain yang bisa memperparah rhinitis alergi, misalnya sinusitis, asma, atau polip dalam rongga hidung.

Jika situasinya akan bergulir ke arah yang mengkhawatirkan tersebut, sebaiknya Anda mulai melakukan tindakan preventif untuk menghindari kemungkinan anak terserang rhinitis. Pencegahan bisa Anda mulai dengan mulai menyingkirkan hal-hal yang memicu alergi. Contohnya jika mengalami alergi terhadap debu, maka bersihkan rumah secara teratur, terutama ruangan yang sering digunakan.

Selain itu, beberapa aktivitas ini juga dapat Anda lakukan sebagai upaya menghindari anak, juga keluarga dari ancaman rhinitis tersebut, di antaranya:

  • Membersihkan air conditioner (AC) setiap 2-3 bulan sekali.
  • Gantilah seprai, kelambu, dan gorden setiap 1 minggu sekali.
  • Jemur tempat tidur 1 minggu sekali.
  • Hindari penggunaan karpet, kapuk, dan boneka bulu.
  • Anjurkan anak untuk lebih banyak bermain di luar kamar, karena jumlah tungau debu rumah paling banyak terdapat di kamar tidur.

Kira-kira itulah beberapa hal yang dapat disajikan mengenai rhinitis pada anak. Jangan pernah biarkan si kecil dan seluruh anggota keluarga terserang gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Pasalnya, lingkungan yang kotor merupakan sumber dari berbagai macam penyakit, tak hanya rhinitis, penyakit-penyakit lain pun dapat bermula dari lingkungan yang tidak bersih.

Waspada Penyebaran Virus Corona, Lakukan Langkah-Langkah Ini

Anda tentu tahu, saat ini kita tengah dihantam wabah virus corona. Kepanikan terjadi di mana-mana karena pengetahuan tentang virus ini masih sangat minim. Untuk dapat menghindarinya, kita semua perlu membekali diri dengan wawasan yang benar terkait virus tersebut.

Mengenal virus corona

Virus corona merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi hewan dan dapat pula menyebar ke manusia. Di dalam kelompok ini, terdapat Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-COV) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS-COV). Jenis virus yang paling baru dari kelompok ini adalah SARS-CoV-2 yang tengah mewabah saat ini.

SARS-CoV-2 merupakan jenis virus corona ketujuh yang menginfeksi manusia. Dampaknya, timbul penyakit COVID-19. Karena ini merupakan virus baru, maka hal-hal yang sekarang diketahui terkait virus ini sangat mungkin berubah.

Informasi sementara, masa inkubasi dari SARS-CoV-2 berlangsung antara 2-14 hari. Artinya, dibutuhkan waktu 2-14 hari sejak seseorang pertama kali tertular sampai muncul gejala.

Infeksi pertama kali memang ditemukan di Wuhan, China, tapi kini telah dinyatakan sebagai pandemi. Sebab sudah tersebar hampir di seluruh dunia.

Berdasarkan informasi yang disediakan oleh WHO, cara penularan SARS-CoV-2 belum diketahui secara pasti. Namun, secara umum virus dapat menyebar melalui tetesan ludah halus penderita ketika berbicara, batuk, atau bersin.

Tetesan ludah halus tersebut dapat masuk langsung ke hidung atau mulut orang sehat dan menyebabkannya terinfeksi. Selain itu, tetesan ludah halus penderita juga dapat menempel pada permukaan benda. Maka, disarankan untuk sesering mungkin membersihkan permukaan benda yang memiliki kontak dengan orang sakit. Sebab ketahanan virus ini belum diketahui, maka waspada merupakan jalan satu-satunya.

Lakukan langkah ini untuk mencegah penyebaran virus corona

Pasien yang tertular SARS-CoV-2 atau lebih lazim disebut virus corona, menunjukkan gejala-gejala ringan hingga berat. Beberapa tanda yang muncul diantaranya demam, batuk, kesulitan bernapas atau napas menjadi pendek. Pada kondisi yang lebih parah, dapat terjadi pneumoniae, gagal ginjal, hingga kematian. Beberapa yang tertular virus ini juga tidak menunjukkan gejala sama sekali, namun tetap dapat menularkannya kepada orang lain.

Sementara ini belum ada pengobatan maupun vaksin untuk virus ini. Semua masih dalam tahap penelitian. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Mencegah agar tidak tertular atau meminimalisasi penyebaran virus tersebut. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan.

1. Tinggal di rumah saja

Tinggal di rumah saja atau self isolation merupakan tindakan nyata dari social distancing atau pembatasan sosial. Langkah pembatasan sosial diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Jadi, bila tidak penting dan mendesak, sebaiknya Anda tidak keluar rumah untuk sementara waktu.

2. Rutin mencuci tangan

Disarankan untuk mencuci tangan Anda dengan air mengalir dan sabun secara rutin, bahkan lebih sering dari biasanya. Bila hal ini tidak memungkinkan, Anda boleh menggunakan hand sanitizer.

Cairan antiseptik atau hand sanitizer yang digunakan harus mengandung alkohol minimal 60%. Kadar alkohol yang dianggap efektif untuk mencegah infeksi adalah antara 60%-71%.

3. Menjaga jarak

Saat Anda terpaksa sekali harus keluar rumah, jagalah jarak dengan orang lain. Terutama mereka yang tengah batuk atau bersin. Jagalah jarak aman paling tidak 1 meter. Sebab droplet atau tetesan ludah paling jauh dapat tersembur sejauh 1 meter.

4. Hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut

Sebisa mungkin tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut, sebab tangan Anda mungkin saja sudah terkontaminasi virus corona yang menempel pada permukaan benda. Bagian tubuh, seperti mata atau hidung, memiliki membran mukosa yang dapat menjadi jalan masuk virus.

Jika Anda telah berusaha melakukan swakarantina di rumah, menjaga kebersihan, serta pola hidup agar sistem kekebalan tubuh tetap baik, namun Anda merasakan demam dan kesulitan bernapas, atau gejala lain yang Anda duga sebagai tanda infeksi virus corona, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Anda dapat menghubungi 119 bila dibutuhkan. Nomor tersebut merupakan hotline khusus untuk pengaduan COVID-19 yang disediakan oleh Kemenkes RI.

Bahaya Obat Pengusir Tikus bagi Manusia

bahaya obat pengusir tikus yang dapat sebabkan kematian pada manusia.

Banyak orang-orang memilih obat pengusir tikus atau dalam kata lain “racun tikus” untuk mengatasi keberadaan hewan pengerat itu di dalam rumahnya. Salah satu alasan tingginya penggunaan racun tikus adalah keampuhannya untuk “membasmi” tikus. Tikus yang menyambar makanan yang telah diberi racun seketika akan tergolek tak bernyawa lantaran zat yang terdapat dalam racun itu bekerja mematikan mekanisme tubuh mereka.

Sebenarnya, penggunaan obat pengusir tikus merupakan masalah preferensi belaka. Namun, yang harus diperhatikan bila seseorang memilih mengatasi gangguan tikus di rumahnya dengan racun adalah efek samping atau risiko terhadap dirinya sendiri atau manusia lain di dalam rumah itu. Pasalnya, racun tikus merupakan sesuatu yang tak kalah berbahayanya bagi manusia.

Kandungan dan Mekanisme Kerja Senyawa Berbahaya di dalam Racun Tikus

Salah satu zat atau senyawa yang terkandung di dalam racun tikus adalah Rodentisida. Rodentisida sendiri memang merupakan senyawa kimia beracun yang peruntukannya sengaja digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat. Rodentisida terbagi ke dalam dua kelompok besar berdasarkan kecepatan kerjanya, yakni rodentisida akut (bekerja cepat) dan rodentisida kronis (bekerja lambat). Contoh bahan aktif rodentisida yang tergolong racun akut adalah seng fosfida, brometalin, crimidine, dan arsenik trioksida. Sementara bahan aktif yang tergolong racun kronis adalah kumatetralil, warfarin, fumarin, dan pival yang termasuk racun antikoagulan generasi I, serta brodifakum, bromadiolon, dan flokumafen.

Cara kerja rodentisida ini sendiri dengan cara merusak jaringan saluran pencernaan, masuk ke aliran darah, untuk nantinya berujung pada hancurnya liver target. Penggunaan rodentisida sebagai racun tikus biasanya dalam bentuk batangan dan pellet. 

Mekanisme lain senyawa di dalam racun tikus yang juga amat membahayakan bagi manusia ialah menghentikan pembekuan darah. Jika tertelan oleh manusia, senyawa ini mengakibatkan pendarahan yang lebih serius dan efek yang ditimbulkan lebih lama. 

Tanda dan gejala yang dapat timbul jika tertelan bahan aktif ini yaitu perdarahan ringan hingga berat. Perdarahan dapat terjadi seperti pendarahan pada gusi dan hidung, darah pada feses, dan nyeri pada bagian perut. Sementara itu, perdarahan yang berat akan membuat penderitanya mengalami buang air kecil berdarah, muntah berdarah, hingga terjadi syok dan kematian.

Kasus Kematian Lantaran Racun Tikus

Kasus kematian manusia lantaran menelan obat pengusir tikus kimia ini sudah marak sekali. Di Indonesia sendiri, kerap terdengar berita menyesakkan dada ini. Ada yang keracunan lantaran insiden ketidak-sengajaan, tetapi lebih sering korban memang sengaja diracun oleh orang lain.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, beberapa tahun silam. Kejadian yang terjadi lantaran kelalaian itu menyebabkan enam orang meninggal dunia. Keenamnya diduga kuat terpapar racun tikus. Dalam laporan tertulis mengenai kejadian luar biasa (KLB) keracunan itu, Tim Surveilans Dinas Kesehatan Kalimantan Barat menemukan masa inkubasi keracunan masing-masing korban antara satu jam hingga dua jam. Para korban juga menunjukkan gejala yang sama yakni mual, muntah, sakit kepala, kejang, dan mulut mengeluarkan busa. Dengan melihat gejala itu, tim menyimpulkan bahwa para korban mengalami keracunan bahan kimia.

Produsen obat pengusir tikus kimia ini memang membuat racun dalam bentuk, bau, dan warna yang menarik. Tujuannya tak lain agar si tikus terpancing untuk memakannya. Yang jadi masalah adalah, hal ini amat berisiko bagi mereka yang memiliki anak-anak kecil. Pasalnya, kemungkinan si anak tertarik dan turut “menyantap” racun tikus itu amat tinggi.  Itu sesuai dengan kebiasaan anak-anak yang mudah tertarik pada sesuatu yang mencolok.

Oleh karenanya, untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan, ada beberapa etika atau cara memasang racun tikus yang aman dan tepat. Beberapa di antaranya adalah dengan mempatkan racun dalam wadah khusus, misalnya di dalam potongan pipa, sehingga tidak bisa dimakan hewan peliharaan. Pemilihan tempat untuk menaruh racun tikus itu pun harus diperhatikan, jangan taruh racun di sembarang tempat atau di tempat-tempat yang mudah dijangkau anak kecil.

Sirosis Hati: Apa Yang Perlu Diketahui?

Sirosis hati merupakan tahap akhir dari jaringan hati yang biasanya disebabkan oleh hepatitis dan kecanduan alkohol. Hati memiliki peran penting, antara lain mengeluarkan zat berbahaya atau racun dari tubuh, membersihkan darah, sebagai nutrisi dalam organ tubuh, dan melawan infeksi pada tubuh.

Sirosis hati terjadi karena kerusakan pada hati. Hati mencoba memperbaiki masalah dalam tubuh setiap kali bermasalah. Sirosis hati menyebabkan luka yang bentuknya seperti tisu. Jika sirosis hati terus terjadi, maka luka di dalam tubuh semakin membesar, dan hati akan kesulitan untuk memperbaikinya.

Penyakit ini justru mengancam nyawa manusia jika tidak ditangani dengan pengobatan yang tepat. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami sirosis hati perlu didiagnosis lebih awal untuk menemukan solusi yang bisa ditawarkan.

Gejala

Pada awalnya, seseorang tidak merasakan gejala apapun. Namun ketika waktu berlalu, kondisi pada hati memburuk sehingga gejala yang kemungkinan akan muncul antara lain:

  • Kelelahan.
  • Kebingungan.
  • Memar hingga berdarah.
  • Kehilangan berat badan.
  • Gatal-gatal.
  • Kaki bengkak.
  • Kehilangan nafsu untuk melakukan seks.
  • Telapak tangan merah.
  • Kekuningan pada warna kulit.

Penyebab

Penyebab terjadinya sirosis antara lain:

  • Konsumsi alkohol secara berlebihan.
  • Obesitas.
  • Hepatitis B dan C dalam jangka panjang.
  • Kerusakan empedu.
  • Kelainan pencernaan.
  • Infeksi seperti sifilis.
  • Penggunaan obat berupa metrotreksat atau isoniazid.

Komplikasi

Jika Anda mengalami sirosis hati, komplikasi yang kemungkinan terjadi pada tubuh, antara lain:

  • Tekanan darah tinggi

Sirosis memperlambat aliran darah melalui hati sehingga menyebabkan tekanan pada hati.

  • Pembengkakan pada kaki dan perut

Pembengkakan disebabkan karena tekanan pada vena porta yang meningkat sehingga cairan menumpuk pada bagian kaki dan perut.

  • Pendarahan

Hipertensi portal mengalihkan darah ke vena yang lebih kecil sehingga menyebabkan tekanan dan pendarahan yang serius. Jika hati tidak dapat membekukan pendarahan, pendarahan akan terus berlanjut.

  • Infeksi

Sirosis menyebabkan tubuh kesulitan melawan infeksi.

  • Malnutrisi

Sirosis hati juga menyebabkan tubuh kesulitan mencerna nutrisi sehingga seseorang mengalami penurunan berat badan.

Diagnosis

Jika Anda mengalami sirosis hati, Anda sebaiknya konsultasikan masalah tersebut dengan dokter. Dokter akan meminta Anda untuk melakukan diagnosis terlebih dahulu untuk mengetahui penyebabnya berasal dari mana dan seberapa parah yang kemungkinan dialami oleh manusia.

Dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan berupa tes darah dan radiologi (meliputi USG, CT scan, atau MRI scan). Selain itu, dokter juga menganjurkan untuk melakukan biopsi hati dengan cara mengambil contoh sel hati yang kemudian diuji melalui mikroskop. Endoskopi juga dapat digunakan untuk mengevaluasi jika terindikasi penyakit sirosis hati.

Perawatan

Walaupun penyakit sirosis hati tidak dapat disembuhkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atau memperlambat penyakit tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah obat antivirus jika mengalami infeksi hepatitis C.

Selain itu, gaya hidup yang Anda perlu ubah antara lain:

  • Jangan mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Anda sebaiknya jaga pola makan dengan buah-buahan dan sayuran, makanan yang kaya akan serat dan protein, dan kurangi makanan berlemak dan minuman yang mengandung kafein.
  • Anda juga perlu menjaga berat badan ideal karena lemak yang ada di dalam tubuh dapat merusak hati.

Jika Anda telah melakukan perawatan atau pencegahan sirosis hati yang tercantum di atas, namun kondisi pada tubuh semakin memburuk, Anda sebaiknya hubungi dokter dan minta instruksi dari dokter untuk perawatan yang tepat. Mungkin saja Anda perlu operasi karena penyakit lain yang membahayakan tubuh yang melibatkan sirosis hati.