Rhinitis, Gangguan Indera Penciuman yang Mengganggu Kehidupan Anak

Apakah Anda pernah menemukan masalah pada indera penciuman anak Anda, biasanya ditandai seperti gejala flu, tetapi tak kunjung sembuh walau sudah diberikan obat? Ya, mungkin anak Anda terserang rhinitis.

Rhinitis adalah kondisi di mana terjadi peradangan di dalam rongga hidung. Siapa saja bisa mengalami, termasuk anak-anak. Jika benar, Anda harus waspada. Karena selain mengganggu aktivitas si kecil, bila anak sudah terserang rhinitis, biasanya dia akan semakin mudah terkena serangan serupa hingga usia dewasa.

Hal ini diketahui melalui data statistik yang dilansir American Academy of Allergy, Asthma & Immunology, “Rhinitis alergi yang timbul pada masa anak-anak biasanya menetap sampai usia dewasa, dan akan berkurang pada usia lanjut. Sekitar 15-25% penderita akan sembuh secara spontan setelah 5-7 tahun,” kata laporan tertulis itu.

Sebenarnya rhinitis dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, yakni rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi. Akan tetapi di lapangan, penyebab yang paling lazim adalah lantaran dipicu oleh alergen. Kira-kira perbedaannya dapat dipetakan seperti berikut:

  • Rhinitis alergi

Rhinitis alergi atau yang sering disebut dengan hay fever disebabkan oleh respons alergi terhadap alergen seperti serbuk sari, tungau, debu, air liur hewan peliharaan, bulu binatang peliharaan, dan lainnya. Rhinitis alergi terjadi akibat sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi zat tersebut sebagai zat asing sehingga menyebabkan peradangan pada lapisan hidung, yang meningkatkan sensitivitas saluran pernapasan.

  • Rhinitis nonalergi

Sedangkan rhinitis nonalergi disebabkan oleh mencakup bau tertentu di udara, perubahan cuaca, beberapa obat, makanan tertentu, dan kondisi kesehatan kronis. Rhinitis nonalergi dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa, tetapi lebih sering terjadi setelah usia 20 tahun.

Meski gejala yang ditampakkan anak-anak bisa berbeda-beda setelah terpapar alergen, tetapi umumnya mereka akan mengalami kondisi seperti:

  • Hidung berair atau tersumbat.
  • Bersin-bersin.
  • Mata yang gatal atau berair.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.

Kondisi-kondisi di atas memang akan sembuh dengan sendirinya dan cenderung dapat ditangani. Namun, ada beberapa kasus di mana keadaan itu tak kunjung membaik dan terus-menerus hinggap di tubuh anak Anda.

Situasi ini biasa disebut gejala parennial, dan gejala awal tadi terus berkembang. Beberapa anak-anak dapat menderita sinusitis, di mana rongga di tengkorak dekat dengan tulang pipi dan alis mata dipenuhi oleh cairan yang menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bahkan terkadang menyebabkan infeksi.

Anak kecil bisa berisiko mengembangkan telinga yang lengket (glue ear) sebagai komplikasi sinusitis karena tabung yang menghubungkan ke tenggorokan dan telinga berada di dekat tenggorokan yang tersumbat. Ini bisa juga menyebabkan gangguan pendengaran sementara.

Belum lagi pendarahan di hidung di mana itu merupakan gejala yang umum dari rhinitis alergi. Karena selaput hidung terasa gatal dan sering digosok atau tergoress.

Di sini kepekaan dan perhatian Anda amat dibutuhkan. Jangan ragu untuk segera memeriksakan anak Anda ke dokter jika:

  • Mengalami gejala-gejala yang terasa sangat mengganggu dan tidak kunjung membaik.
  • Obat alergi yang diminum tidak efektif atau justru memicu efek samping yang mengganggu.
  • Memiliki penyakit lain yang bisa memperparah rhinitis alergi, misalnya sinusitis, asma, atau polip dalam rongga hidung.

Jika situasinya akan bergulir ke arah yang mengkhawatirkan tersebut, sebaiknya Anda mulai melakukan tindakan preventif untuk menghindari kemungkinan anak terserang rhinitis. Pencegahan bisa Anda mulai dengan mulai menyingkirkan hal-hal yang memicu alergi. Contohnya jika mengalami alergi terhadap debu, maka bersihkan rumah secara teratur, terutama ruangan yang sering digunakan.

Selain itu, beberapa aktivitas ini juga dapat Anda lakukan sebagai upaya menghindari anak, juga keluarga dari ancaman rhinitis tersebut, di antaranya:

  • Membersihkan air conditioner (AC) setiap 2-3 bulan sekali.
  • Gantilah seprai, kelambu, dan gorden setiap 1 minggu sekali.
  • Jemur tempat tidur 1 minggu sekali.
  • Hindari penggunaan karpet, kapuk, dan boneka bulu.
  • Anjurkan anak untuk lebih banyak bermain di luar kamar, karena jumlah tungau debu rumah paling banyak terdapat di kamar tidur.

Kira-kira itulah beberapa hal yang dapat disajikan mengenai rhinitis pada anak. Jangan pernah biarkan si kecil dan seluruh anggota keluarga terserang gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Pasalnya, lingkungan yang kotor merupakan sumber dari berbagai macam penyakit, tak hanya rhinitis, penyakit-penyakit lain pun dapat bermula dari lingkungan yang tidak bersih.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*