Skrining TBC, Apa dan Kapan Anda Membutuhkannya?

Tahun 2019 lalu, Kementerian Kesehatan RI melaksanakan skrining TBC di berbagai tempat yang dianggap berpotensi sebagai area penularan TBC. Beberapa lokasi yang dipilih adalah pondok pesantren, asrama TNI dan POLRI, serta lembaga pemasyarakatan. Lebih dari 400 ribu orang menjalani pemeriksaan dan 35 ribu di antaranya diduga menderita TBC.

Beberapa ahli bahkan mengklaim, di negara dengan kualitas sanitasi seperti Indonesia, sebagian besar masyarakat diduga memiliki bakteri TB di dalam tubuhnya. Jika tidak ada gejala yang muncul, kemungkinan karena bakteri tersebut dalam posisi tidur atau dormant. Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri dapat aktif dengan segera.

Maka, penting sekali untuk dilakukan skrining TBC, agar upaya-upaya penanganan yang tepat dapat dilakukan.

Skrining TBC, apakah itu?

Dengan skrining TBC dapat diketahui apakah seseorang terinfeksi bakteri tuberkulosis (TBC) atau tidak. Infeksi ini sering kali menyerang paru-paru, namun tidak terbatas pada organ tersebut. Ginjal, tulang belakang, dan otak dapat diserang oleh bakteri TBC. Itu sebabnya, infeksi ini dikategorikan sebagai infeksi yang sangat serius.

Pada beberapa orang, infeksi ini tidak menimbulkan gejala atau disebut dengan TBC laten. Seperti disebutkan sebelumnya, TBC laten dapat menjadi TBC aktif saat daya tahan tubuh menurun. Dan pada periode ini, pasien dapat menularkannya kepada orang lain.

Pemeriksaan yang sangat seksama pun dibutuhkan. Skrining TBC pada anak-anak, biasanya dilakukan dengan tes Mantoux, sedang pada orang dewasa dilakukan dengan tes dahak dan rontgen dada.

Tes Mantoux

Tes mantoux merupakan skrining TBC yang umum dilakukan pada anak-anak. Dalam prosesnya, pemeriksaan ini dilakukan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, dokter akan menyuntikkan purified protein derivative (PPD)ke bawah kulit pasien. Umumnya, PPD atau yang lebih dikenal dengan istilah tuberkulin ini disuntikkan di bagian lengan.

Setelah proses penyuntikkan tuberkulin, muncul benjolan kecil berwarna pucat pada area bekas suntikan.

Tahap berikutnya, dalam 24-72 jam, dokter akan melihat reaksi yang muncul terhadap tuberkulin. Adanya reaksi kulit yang timbul menandakan bahwa pasien telah terinfeksi bakteri TBC. Rentang waktu tersebut, harus presisi. Jika pasien baru datang kembali setelah 72 jam, maka tes mantoux perlu diulangi.

Sementara, bila tidak ditemukan reaksi pada kulit dan tes ini merupakan tes pertama pasien, maka pemeriksaan perlu diulangi dalam 1-3 minggu berikutnya. Tujuannya, untuk memastikan bahwa hasil skrining TBC tersebut benar-benar negatif.

Rontgen dada

Pada prinsipnya, prosedur ini menyerupai prosedur rontgen secara umum. Dada pasien akan diperiksa di bawah sinar X dan hasilnya akan diinterpretasi oleh dokter ahli radiologi. Dalam hal ini, dokter ahli radiologi akan mencari ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi TBC.

Pemeriksaan dahak

Pasien yang menjalani skrining TBC dengan pemeriksaan dahak, akan diminta batuk hingga mengeluarkan dahak. Pengambilan sampel dahak ini dilakukan pada pagi hari.  Ke dalam wadah yang sebelumnya telah diberikan kepada pasien, dahak tersebut ditampung. Nantinya, dahak tersebut akan diperiksa di laboratorium.

Dahak akan disimpan di dalam wadah khusus yang berisi nutrisi bagi bakteri. Selanjutnya, bakteri yang tumbuh akan dianalisis agar diketahui apakah di antaranya terdapat bakteri TBC atau tidak.

Kondisi yang memerlukan skrining TBC

Tidak ada orang yang ingin terinfeksi bakteri TBC. Dan sebagian besar orang mungkin bersedia menjalani skrining TBC, demi memperoleh perawatan yang tepat. Namun, pertanyaannya, kapan kita perlu menimbang untuk melakukan pemeriksaan TBC?

Anda sebaiknya berkunjung ke dokter dan menjalani skrining TBC jika mengalami batuk terus-menerus selama 2 minggu, mengalami batuk berdarah, nyeri dada, demam, berkeringat di malam hari, sering merasa kelelahan, dan berat badan Anda menurun tanpa ada penyebab yang jelas.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*