Skrining TBC, Apa dan Kapan Anda Membutuhkannya?

Tahun 2019 lalu, Kementerian Kesehatan RI melaksanakan skrining TBC di berbagai tempat yang dianggap berpotensi sebagai area penularan TBC. Beberapa lokasi yang dipilih adalah pondok pesantren, asrama TNI dan POLRI, serta lembaga pemasyarakatan. Lebih dari 400 ribu orang menjalani pemeriksaan dan 35 ribu di antaranya diduga menderita TBC.

Beberapa ahli bahkan mengklaim, di negara dengan kualitas sanitasi seperti Indonesia, sebagian besar masyarakat diduga memiliki bakteri TB di dalam tubuhnya. Jika tidak ada gejala yang muncul, kemungkinan karena bakteri tersebut dalam posisi tidur atau dormant. Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri dapat aktif dengan segera.

Maka, penting sekali untuk dilakukan skrining TBC, agar upaya-upaya penanganan yang tepat dapat dilakukan.

Skrining TBC, apakah itu?

Dengan skrining TBC dapat diketahui apakah seseorang terinfeksi bakteri tuberkulosis (TBC) atau tidak. Infeksi ini sering kali menyerang paru-paru, namun tidak terbatas pada organ tersebut. Ginjal, tulang belakang, dan otak dapat diserang oleh bakteri TBC. Itu sebabnya, infeksi ini dikategorikan sebagai infeksi yang sangat serius.

Pada beberapa orang, infeksi ini tidak menimbulkan gejala atau disebut dengan TBC laten. Seperti disebutkan sebelumnya, TBC laten dapat menjadi TBC aktif saat daya tahan tubuh menurun. Dan pada periode ini, pasien dapat menularkannya kepada orang lain.

Pemeriksaan yang sangat seksama pun dibutuhkan. Skrining TBC pada anak-anak, biasanya dilakukan dengan tes Mantoux, sedang pada orang dewasa dilakukan dengan tes dahak dan rontgen dada.

Tes Mantoux

Tes mantoux merupakan skrining TBC yang umum dilakukan pada anak-anak. Dalam prosesnya, pemeriksaan ini dilakukan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, dokter akan menyuntikkan purified protein derivative (PPD)ke bawah kulit pasien. Umumnya, PPD atau yang lebih dikenal dengan istilah tuberkulin ini disuntikkan di bagian lengan.

Setelah proses penyuntikkan tuberkulin, muncul benjolan kecil berwarna pucat pada area bekas suntikan.

Tahap berikutnya, dalam 24-72 jam, dokter akan melihat reaksi yang muncul terhadap tuberkulin. Adanya reaksi kulit yang timbul menandakan bahwa pasien telah terinfeksi bakteri TBC. Rentang waktu tersebut, harus presisi. Jika pasien baru datang kembali setelah 72 jam, maka tes mantoux perlu diulangi.

Sementara, bila tidak ditemukan reaksi pada kulit dan tes ini merupakan tes pertama pasien, maka pemeriksaan perlu diulangi dalam 1-3 minggu berikutnya. Tujuannya, untuk memastikan bahwa hasil skrining TBC tersebut benar-benar negatif.

Rontgen dada

Pada prinsipnya, prosedur ini menyerupai prosedur rontgen secara umum. Dada pasien akan diperiksa di bawah sinar X dan hasilnya akan diinterpretasi oleh dokter ahli radiologi. Dalam hal ini, dokter ahli radiologi akan mencari ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi TBC.

Pemeriksaan dahak

Pasien yang menjalani skrining TBC dengan pemeriksaan dahak, akan diminta batuk hingga mengeluarkan dahak. Pengambilan sampel dahak ini dilakukan pada pagi hari.  Ke dalam wadah yang sebelumnya telah diberikan kepada pasien, dahak tersebut ditampung. Nantinya, dahak tersebut akan diperiksa di laboratorium.

Dahak akan disimpan di dalam wadah khusus yang berisi nutrisi bagi bakteri. Selanjutnya, bakteri yang tumbuh akan dianalisis agar diketahui apakah di antaranya terdapat bakteri TBC atau tidak.

Kondisi yang memerlukan skrining TBC

Tidak ada orang yang ingin terinfeksi bakteri TBC. Dan sebagian besar orang mungkin bersedia menjalani skrining TBC, demi memperoleh perawatan yang tepat. Namun, pertanyaannya, kapan kita perlu menimbang untuk melakukan pemeriksaan TBC?

Anda sebaiknya berkunjung ke dokter dan menjalani skrining TBC jika mengalami batuk terus-menerus selama 2 minggu, mengalami batuk berdarah, nyeri dada, demam, berkeringat di malam hari, sering merasa kelelahan, dan berat badan Anda menurun tanpa ada penyebab yang jelas.

Tusuk Gigi: Lebih Banyak Manfaat atau Risikonya?

Penggunaan tusuk gigi dapat mengganggu kesehatan mulut

Makan adalah salah satu kebutuhan dasar dan utama bagi makhluk hidup, utamanya manusia. Namun, banyak pula masalah yang terdapat pada proses itu. Tak jarang masalah-masalah yang ada menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia, contohnya keracunan, tersedak, hingga tersangkutnya makanan di sela gigi. Untuk yang terakhir mungkin terdengar sepele, tetapi hampir sebagian masalah pada kesehatan gigi bermula dari hal itu. Atas dasar itu, muncullah tusuk gigi.

Tusuk gigi diciptakan untuk mengatasi masalah yang timbul setelah makan. Kondisi gigi seseorang yang berbeda-beda, serta tekstur makanan yang berbeda pula memungkinkan tersangkutnya sesuatu di sela gigi manusia. Kondisi itu membuat tidak nyaman. Bahkan, bila kita abai kondisi itu bisa menyebabkan masalah kesehatan gigi yang serius.

Akan tetapi, banyak kalangan medis, utamanya dokter gigi yang tidak menyarankan penggunaan tusuk gigi. Alasannya sederhana, sebab alat itu menyisakan banyak cela lantaran memiliki berbagai risiko jika digunakan. Apa saja bahaya dari penggunaan tusuk gigi? Berikut di antaranya: 

  • Pengikisan

Ketika seseorang terus menyogok sela-sela gigi dengan tusuk gigi untuk menghilangkan sisa makanan yang tertinggal, hal itu akan menyebabkan pengikisan dan juga menyebabkan pendarahan. Jika ini terus dilakukan dapat menyebabkan kerusakan pada seluruh gigi.

  • Penyakit gusi

Terlalu sering memakai tusuk gigi dapat meningkatkan risiko kerusakan gusi. Tusuk gigi harus digunakan dengan sangat hati-hati dan dengan gerakan lembut. Hal ini untuk mencegah gusi terkoyak karena gerakan yang kasar.

Sesekali menggunakan tusuk gigi mungkin sah-sah saja, tetapi ketika penggunaannya terlampau sering, hal itu dapat mempengaruhi kondisi gusi. Andai masalah gusi tersebut tidak diobati hal ini dapat menyebabkan penyakit gusi parah.

  • Membuat jarak antar gigi

Ketika tusuk gigi sering digunakan di tempat yang sama, lama kelamaan hal itu akan menciptakan ruang di antara dua gigi dan akan semakin memperburuk kondisi rongga mulut Anda. 

Gunakan tusuk gigi dengan cara yang benar, yakni dengan sudut yang tepat sesuai dengan kontur yang normal. Tusuk gigi harus digerakkan dari dalam ke luar secara perlahan dengan sudut kemiringan 45 derajat. Seringkali tusuk gigi digunakan secara horizontal, sehingga dapat merenggangkan ruang di sela-sela gigi, dan makanan akan semakin mudah terselip di daerah tersebut.

  • Merusak enamel gigi

Ketika seseorang menggunakan tusuk gigi, dalam proses itu mereka juga cenderung mengunyah dari tusuk gigi yang terbuat dari plastik atau kayu dan menyebabkan kerusakan pada enamel gigi.

Enamel atau email adalah lapisan luar gigi yang bisa dilihat. Lapisan ini mengandung 5% air dan 95% zat inorganik hidroksi apalit (senyawa kalsium fospat) dan zat organik (protein dan mukopolisakarida). Zat-zat tertentu atau kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan secara terus menerus memungkinkan untuk merusak enamel atau emailk gigi ini.

  • Merusak akar gigi

Sering menggunakan tusuk gigi terlalu sering dan dengan cara yang salah memungkinkan gusi bergerak turun dari posisi sebenarnya, hal itu bisa menyebabkan kerusakan pada akar gigi. Kondisi ini akan menyebabkan rasa sakit dalam beberapa kasus.

  • Pergeseran letak gigi

Kebiasaan menggunakan tusuk gigi atau kebiasaan menggigit pulpen, pensil dan kacamata berisiko memberi banyak tekanan pada gigi. Hal ini dapat menyebabkan gigi bergeser, bahkan bisa menyebabkan gigi.

Itulah beberapa kemungkinan buruk yang bisa saja didapat jika terlalu sering atau menggunakan tusuk gigi dengan cara yang salah. Sebenarnya, tusuk gigi bermanfaat jika kita tahu cara menggunakannya secara baik dan benar. Kendati demikian, jangan terlalu sering juga, ya, menggunakan tusuk gigi meskipun alat itu cukup simpel, mudah, dan efektif.

Hal-Hal yang Perlu Diketahui Mengenai Endoskopi THT Anak

Berdasarkan definisinya, endoskopi adalah suatu prosedur medis untuk mengamati bagian dalam tubuh tanpa operasi. Endoskopi bisa dilakukan di beberapa organ tubuh, termasuk endoskopi THT.

Prosedur medisi ini mengandalkan alat penunjang canggih untuk melihat, memeriksa, sekaligus mendiagnosis masalah yang terjadi di dalam tubuh sesorang. Serangkaian alat itu terdiri dari semacam tabung kecil berserat optik, kamera, dan lampu.

Semua orang bisa mendapatkan prosedur medis ini, termasuk juga anak-anak. Di bawah ini akan tersedia informasi mengenai apa-apa saja yang dapat diketahui mengenai endoskopi THT pada anak.

Apa Kegunaan Pemeriksaan Endoskopi THT?

Endoskopi THT sangat bermanfaat untuk mengetahui keadaan bagian THT (telinga, hidung, dan tenggorok). Selain itu, endoskopi THT ini juga bisa digunakan untuk mendiagnosis masalah-masalah yang timbul di telinga, hidung, dan tenggorok, termasuk laring, esofagus dan bronkus.

Kondisi-kondisi seperti mimisan berulang, telinga berdenging, nyeri tenggorok, dan berbagai masalah lain menyangkut THT, bisa diatasi dengan prosedur ini. Adapun bagi anak-anak, endoskopi THT bisa pula digunakan untuk mengambil barang atau sesuatu yang tidak sengaja masuk ke telinga, hidung, atau tenggorok mereka.

Apakah Anak akan Merasakan Sakit ketika Diendoskopi?

Secara umum, tidak. Pasalnya, sebelum proses endoskopi THT dilangsungkan, dokter akan memberikan bius pada anak. Prosedur pembiusannya beragam, tetapi yang paling sering adalah dengan menyemprotkan pada bagian yang akan diendoskop.

Kapan Endoskopi THT bagi Anak Perlu Dilakukan?

Waktu terbaik bagi anak mendapat perawata endoskopi THT adalah saat Anda sebagai orang tua, atau si anak itu sendiri merasakan ada masalah di organ THT. Misalnya:

  • Kemasukan benda asing;
  • Tinnitus atau telinga berdenging;
  • Kehilangan pendengaran;
  • Polip;
  • Sinus;
  • Mimisan dengan intensitas yang sering;
  • Papiloma laring;
  • Abses tenggorok;
  • Difteri;
  • Dan berbagai masalah THT lainnya.

Perhatikan Hal Ini Sebelum Endoskopi THT

Pada prosedur endoskopi THT, anak atau pasien tak perlu menjalani puasa beberapa jam sebelum pelaksanaan. Hal ini tidak seperti prosedur endoskopi saluran cerna. Hal yang harus diperhatikan sebelum memulai endoskopi THT adalah menginformasikan apabila baru atau rutin mengonsumsi obat pengencer darah dan memakai gigi palsu.

Bagaimana Prosedur Endoskopi THT Anak Dilangsungkan?

Seperti yang sudah dapat diperkirakan, prosedur endoskopi THT berlangsung dengan memasukkan endoskop ke dalam organ yang bermasalah. Penting kiranya bagi anak atau Anda yang mendampingi untuk menyampaikan apa yang dirasa kepada dokter untuk kelancaran pemeriksaan.

Dari proses itu, gambaran organ anak yang diendoskop akan terlihat lewat monitor di samping dokter. Dokter mungkin akan mengambil sedikit jaringan pada saluran cerna jika diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah Endoskopi THT, Apakah Anak Dipersilakan Pulang atau Perlu Dirawat?

Setelah prosedur pemeriksaan dilangsungkan, biasanya bila tidak ada masalah berarti, anak bisa langsung pulang. Namun, untuk kondisi-kondisi tertentu, mungkin dokter akan membuat kebijakan lain.

Umumnya, hasil endoskopi THT tersebut akan didiskusikan oleh dokter untuk menentukan langkah selanjutnya. Mengenai hasil pemeriksaan jaringan memerlukan waktu beberapa hari jika dokter mengambil sampel biopsi.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Prosedur Endoskopi THT

Umumnya jarang terjadi masalah setelah tindakan endoskopi, pasalnya prosedur edoskopi THT ini terbilang aman dan minim risiko atau efek samping. Akan tetapi segera hubungi dokter apabila terdapat keluhan pada bagian yang diendoskopi atau perasaan yang diyakini terjadi akibat prosedur itu.

Label BPA Free Tidak Menjamin Botolmu Bebas Penyakit

Hampir sebagian perangkat kita sehari-hari dibuat dari berbagai bahan kimia. Beberapa di antaranya ada yang tidak baik untuk kesehatan. Salah satu bahan kimia tersebut adalah bisphenol-A (BPA). Salah satu hal penting yang harus diperhatikan terkait BPA ini adalah penggunaannya di perangkat makan kita, sebab kontaminasi zat itu bisa menyebabkan penyakit. Oleh karenanya, pastikan semua perangkat makan kita memiliki label BPA free.

Bisphenol-A digunakan untuk membuat wadah atau perangkat makan kita kuat dan tidak mudah bocor. Namun, BPA bisa mengkontaminasi makanan atau minuman yang disimpan di dalam wadah tersebut. Ketika BPA masuk ke tubuh manusia, maka berbagai masalah kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang dapat terjadi, baik pada orang dewasa, anak-anak, bahkan janin.

Akan tetapi bahaya tidak berhenti sampai di situ saja. Meski wadah atau perangkat makan dan minum kita memiliki label BPA free, kemungkinan makanan atau minuman terkontaminasi zat berbahaya masih tetap ada. Beberapa kebiasaan di bawah inilah penyebab-penyebabnya:

  1. Tidak Rajin Mencuci Botol

Walaupun hanya diisi air putih, biasakan untuk mencuci botol minum Anda setidaknya sehari sekali. Sama seperti gelas yang kita pakai untuk minum, pinggiran botol minum yang tidak dibersihkan bisa menjadi ladang bakteri. Bagian dalam botol yang jarang dibersihkan juga akan ditumbuhi jamur, sehingga akan berdampak pada kehigienisan bahkan rasa dari minuman Anda. Anda bisa saja terkena diare karena kebiasaan buruk yang satu ini.

  • Mengisi Air Minum dalam Keadaan Basah

Ketika kita telah rajin mencuci wadah makanan dan minuman sebaiknya pastikan mereka telah kering secara sempurna sebelum menggunakannya lagi. Sebab botol minum atau tempat makan yang masih basah bisa membuat bakteri dan jamur tumbuh. Hal ini berkaitan dengan sifat bakteri dan jamur yang mudah tumbuh dalam keadaan lembap. Bagian penutup botol merupakan tempat paling favorit untuk bakteri berkembang biak, saat botol minum dipakai dalam keadaan lembap atau basah.

  • Tidak Mencuci Botol dengan Benar

Selain memiliki label BPA free, perawatan wadah itu sendiri memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan Anda. Mencuci wadah makan atau minuman hanya dengan air tak menjamin bakteri atau jamur mati seketika. Menurut para ahli, cara terbaik untuk membersihkan botol minum, terutama bagian dalamnya adalah dengan menggunakan campuran air panas dengan baking soda atau cuka. Hal ini akan mengangkat jamur, serta menghilangkan bau dari botol minum. Setelahnya, barulah bersihkan kembali dengan sabun dan bilas hingga bersih. Jangan lupa gunakan sikat pembersih, untuk menjangkau bagian yang susah dibersihkan dengan tanganmu.

  • Tidak Teliti Sewaktu Mengeringkan

Botol minum biasanya terdiri dari beberapa bagian, yang paling umum tentu saja bagian badan dan penutup botolnya. Setelah kamu mencuci bersih tiap bagiannya, botol minum jangan lansung dipasang, kemudian dikeringkan. Bukannya kering, sisa air pembersih pada bagian botol minum malah akan menumpuk. Biarkan masing-masing bagian botol kering terlebih dahulu, sebelum kamu memasangkannya kembali.

  • Bau dan Perubahan Warna Tanda untuk Segera Cari Pengganti

Seorang ahli kesehatan menyebutkan bahwa perubahan warna, rasa, hingga bentuk seperti retakan pada botol minum, hanya akan membuat meningkatnya jumlah bakteri di area tersebut.

Artinya, jika wadah makanan atau minuman Anda telah berbau dan melihatkan perubahan warna atau bentuk, segeralah beralih dan cari pengganti. Jangan gunakan wadah yang telah usang. Sebab, selain akan “merusak” rasa dari makanan atau minuman Anda, tidak ada jaminan pula isi di dalamnya akan bebas dari zat-zat berbahaya.

***

Itulah beberapa kebiasaan buruk yang bisa juga membuat wadah tempat makan atau minuman Anda menjadi sebab dari memburuknya kondisi kesehatan. Jadi, jangan hanya terpaku dengan label BPA free, perawatan yang baik dan benar juga bisa menjadi upaya Anda terhindar dari berbagai penyakit.

Hal Penting bagi Ibu Menyusui di Tengah Pandemi Corona

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) masih terus berlangsung hingga saat ini. Tragedi itu melumpuhkan beberapa sendi kehidupan sekaligus mengubah banyak tatanan yang sudah mapan. Banyak kelompok orang berada di dalam situasi dilematis, salah satunya ibu menyusui.

Virus corona menyebar dan dapat menginfeksi seseorang melalui droplet atau percikan cairan dari mulut maupun hidung. Oleh karenanya, phsycal distancing atau pembatasan fisik (menjaga jarak) menjadi prosedur yang ditetapkan untuk memutus rantai persebaran virus tersebut. Masalahnya, bagaimana ibu bisa menyusui bayinya jika harus menjaga jarak. Kondisi itu bertambah rumit ketika sang ibu, yang tengah menyusui itu, masuk ke dalam daftar pasien covid-19.

Untuk mengatasi itu, banyak organisasi kesehatan masyarakat merekomendasikan ibu dan bayi tetap bersama, kendati si ibu positif corona. Pasalnya, biar bagaimanapun si bayi harus tetap mendapatkan asupan ASI dalam masa-masa menyusui tersebut untuk menunjang kehidupannya.

Situasi ini berhasil memaksa organisasi kesehatan untuk membuat prosedur untuk mengatasi dilema ini. Ada yang menyarankan pasien covid-19 yang berstatus sebagai ibu menyusui dipisahkan dengan pasien lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Tujuannya agar ibu masih dapat menyusui bayinya tanpa mengorbankan kesehatan si bayi dari orang-orang selain ibunya.

Lain lagi pandangan dari Academy of Breastfeeding Medicine. Alison Stuebe, MD, sang presiden memengungkapkan bahwa ada banyak risiko yang bakal diterima bayi jika ia harus dipisahkan dari ibunya.

Dalam komentarnya, Dr. Stuebe, mencatat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemisahan antara bayi dan ibu dengan dugaan atau konfirmasi Covid-19 bisa “menyelamatkan” si bayi.

Memang pemisahan ini bisa meminimalisir risiko penularan virus dari ibu ke bayi selama tinggal di rumah sakit. Namun itu memiliki potensi konsekuensi negatif bagi ibu dan bayi, demikian komentar yang diterbitkan dalam Breastfeeding Medicine, jurnal resmi dari Academy of Breastfeeding Medicine.

Dr. Stuebe menguraikan beberapa risiko memisahkan ibu dan bayi di rumah sakit, yang mengganggu pemberian ASI dan kontak kulit ke kulit selama jam dan hari-hari kritis setelah kelahiran. Sebagai contoh, bayi yang kekurangan kontak kulit dengan ibu mereka cenderung memiliki detak jantung dan pernapasan yang lebih tinggi dan kadar glukosa yang lebih rendah.

Perpisahan itu juga bisa membuat mental dan kondisi psikologis ibu tertekan, yang mana bisa membuatnya lebih sulit untuk melawan infeksi virus corona. Selain itu, pemisahan mengganggu pemberian ASI kepada bayi, yang penting untuk perkembangan sistem kekebalan bayi. Pemisahan juga mengganggu pemberian ASI, yang menempatkan bayi pada peningkatan risiko infeksi pernapasan berat, termasuk pneumonia dan Covid-19.

  • Prosedur Pemberian ASI oleh Ibu Menyusui Terduga atau Positif Corona

Oleh karena pentingnya aktivitas menyusui bagi bayi maupun si ibu sendiri, kendati tengah dalam bayang-bayang virus corona, berikut beberapa prosedur yang disarankan untuk meminimalisir terjadinya penularan:

  • Untuk ibu yang memiliki gejala tapi masih bisa menyusui, tindakan pencegahan yang dimaksud adalah memakai masker ketika berada di sekitar anak (termasuk ketika sedang menyusui);
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan anak (termasuk menyusui);
  • Membersihkan/memberi desinfektan pada permukaan yang terkontaminasi – sebagaimana seharusnya dilakukan untuk tiap kali seseorang yang telah dikonfirmasi atau dicurigai terkena covid-19;
  • Jika kondisi ibu terlalu payah, maka disarankan untuk memerah ASI dan memberikannya ke anak melalui cangkir dan/atau sendok bersih – dan terus melakukan metode pencegahan penularan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

***

Itulah kiranya beberapa hal penting yang dapat diketahui menganai aktivitas ibu menyusui di tengah pandemic virus corona. Situasi ini memang berat dan amat dilematis, tetapi dengan prosedur yang benar dan aman, kemungkinan terjadinya penularan pada bayi pun bisa diminimalisir sehingga bayi tetap mendapatkan nutrisi dari sang ibu, dan sebaliknya, ibu tetap dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,

Langkah Benar Merias Alis dengan Tint Eyebrow

Penggunaan tint eyebrow bisa menjadi jawaban bagi Anda yang ingin selalu tampil dengan riasan sempurna setiap waktu, namun tidak memiliki banyak waktu untuk make up. Dalam make up sendiri, pelukisan alis menjadi bagian yang memakan waktu dan membutuhkan konsentrasi tinggi.  Tint eyebrow bisa menjadi solusi karena riasan ini bisa bertahan di wajah Anda hingga berhari-hari. Anda pun bisa menghemat waktu berias karena tidak perlu lagi banyak menghabiskan waktu untuk melukis alis yang sesuai harapan.

Namun tetap harus diingat, untuk mendapatkan hasil maksimal dari penggunaan tint eyebrow, baik dari kualitas gambar sampai ketahanannya, Anda harus menggunakannya secara tepat. Langkah yang salah dalam memakai tint eyebrow hanya akan membuat Anda kecewa dan terpaksa mengulang pelukisan alis dari waktu ke waktu, yang tentunya memakan waktu Anda.

Supaya tidak demikian, ikuti langkah-langkah yang benar dalam merias alis dengan tint eyebrow seperti di bawah ini ya. Langkah yang benar bisa menghasilkan gambar alis mata yang meningkatkan kepercayaan diri Anda.

Persiapkan peralatan yang dibutuhakn

Anda tidak bisa melukis alis jika tidak memiliki alat yang dibutuhkan. Mula-mula peralatan untuk melakukan penatoan pada alis biasanya berupa paket pewarnaan alis, mulai dari pensil untuk menggambar sampai tinta untuk melukis serta tidak ketinggalan wadahnya. Tinta yang ada pada paket tersebut juga mesti Anda encerkan terlebih dahulu guna bisa membuat gambaran alis yang terlihat natural.

Namun saat ini, sudah banyak peralatan tint eyebrow yang simpel dari berbagai merek kecantikan dunia. Anda tidak perlu lagi menyiapkan pensil alis tersendiri ataupun mencampurkan tinta untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Anda hanya perlu membeli tint eyebrow dengan tekstur, model, dan warna sesuai keinginan.

Pastikan wajah dalam keadaan bersih

Sebelum mulai menggambar tato sementara untuk alis mata Anda, pastikan terlebih dahulu wajah Anda sudah dalam keadaan bersih. Jangan sampai masih ada bekas-bekas make up di wajah, apalagi di area mata.

Kulit wajah yang sudah bersih akan mempermudah pelukisan alis dengan tint eyebrow. Hasilnya juga akna lebih baik. Sebaliknya ketika melukis alis dengan wajah yang masih kotor karena riasan atau debu, risiko iritasi sampai masalah kulit lainnya siap mengancam.

Tambahkan pelembap di area mata

Tint eyebrow cenderung membuat area kulit menjadi kulit. Guna hal tersebut terjadi pada area mata Anda, baiknya diantisipasi terlebih dahulu dengan menambahkan pelembap pada sekitar alis Anda.

Untuk melembapkan area mata, Anda bisa menggunakan petroleum jelly atau lipbalm sebagai jalan pintas. Pastikan area lengkungan alis terlembapi dengan sempurna untuk menjaga kesehatan kulit Anda.

Lukis dari dalam ke luar

Kini Anda bisa memulai untuk melukis alis Anda sesuai harapan. Namun, untuk menggambar alis secara sempurna, Anda juga perlu trik. Trik tersebut guna membuat lukisan alis terlihat rapi dan natural.

Baiknya Anda menerapkan prinsip melukis alis dari bagian dalam ke luar, jangan sebaliknya. Pelukisan dari alis bagian dalam ke alis bagian luar akan membuat gambar alis tebal di bagian tengah dan mulai memudar di sudut alis. Ini membuat lukisan alis terlihat natural, layaknya alis pada umumnya.

Beri waktu tunggu dan bersihkan

Setelah alis terambar dengan baik, Anda mesti menunggu sekitar 15 menit untuk bisa melihat hasil akhirnya. Selamat 15 menit tersebut tinta akan menyerap dan bisa saja membuat tampilan gambar sedikit berubah dibandingkan saat Anda baru menyelesaikan proses rias.

Jika sudah puas dengan hasil akhirnya, langkah terakhir yang perlu Anda lakukan adalah membersihkan bagian-bagian sisi alis. Soalnya ketika menggambar tadi, sangat mungkin ada coretan kecil yang tidak sesuai dengan jalur alis Anda.

***

Tidak sulit bukan melukis alis dengan tint eyebrow? Langkah melukis alis dengan tint eyebrow sebenarnya tidak berbeda jauh dengan penggambaran alis pada make up sehari-hari. Namun, dampak ke depannya sungguh berbeda karena Anda tidak perlu capek-capek melakukan touch up atau pelukisan ulang setiap hari.

Mengapa Analisa Gas Darah Perlu Dilakukan?

Tes gas darah, atau juga disebut dengan analisa gas darah, memiliki tujuan untuk mengukur kadar oksigen dan karbondioksida di dalam darah. Selain itu, tes ini juga dapat membantu mengukur kadar pH dan fungsi paru-paru. Dokter sering menggunakan tes gas darah pada situasi kegawatdaruratan untuk membantu mendiagnosa penyebab kesulitan bernapas pada pasien. Artikel ini akan membahas tujuan analisa gas darah serta risiko yang mungkin dapat ditembulkan setelah mendapatkan tindakan medis ini.

Tujuan tes gas darah

Setiap orang yang kesulitan bernapas atau memiliki gangguan kesehatan yang berhubungan dengan paru-paru akan mendapatkan analisa gas darah. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan membantu dokter untuk mengidentifikasi penyebab gejala yang ditimbulkan. Analisa gas darah dapat menunjukkan seberapa baik organ-organ tubuh seperti paru-paru, jantung, dan ginjal bekerja. Secara lebih spesifik, hasil dari analisa tersebut dapat membantu dokter untuk mendiagnosa masalah pernapasan dan paru-paru, memeriksa apakah perawatan penyakit paru-paru yang sedang dilakukan berfungsi efektif atau tidak, dan menentukan apakah seseorang memiliki pembuluh darah yang pecah, penyakit metabolisme, ataupun keracunan bahan kimia. Selain itu, dokter juga akan menggunakan analisa gas darah untuk memeriksa keseimbangan berbasis asam pada orang-orang yang memmiliki gangguan ginjal, menderita diabetes, dan sedang dalam masa pemulihan setelah mengalami overdosis obat-obatan.

Risiko tes gas darah

Sama halnya dengan tindakan medis lain, analisa gas darah memiliki risiko kesehatannya sendiri. Mengambil darah dari arteri dapat menyebabkan rasa sakit dibandingkan dengan mengambil darah dari pembuluh darah. Ini disebabkan karena pada arteri tubuh terdapat saraf sensitif yang terletak di bagian dalam tubuh. Rasa sakit atau ketidaknyamanan apapun akan bertahan selama beberapa menit setelah tes gas darah berlangsung. Beberapa orang mungkin juga akan merasa pusing atau mual saat dokter mengambil darah, terutama apabila orang tersebut merasa gugup. Untuk menghindari terjadinya lebam, seseoran dapat menekan dengan lembut bagian yang disuntik selama beberapa menit setelah dokter mencabut jarum suntik. Meskipun sangat jarang terjadi, ada kemungkinan jarum yang digunakan menyebabkan kerusakan atau menyumbat arteri. Selain itu, siapa saja yang baru mendapatkan analisa gas darah disarankan untuk menghindari mengangkat benda-benda berat setidaknya selama 1 hari untuk menghindari komplikasi ataupun cidera.

Tes tambahan selain analisa gas darah?

Untuk membuat diagnosa, dokter tidak hanya akan mengandalkan analisa gas darah. Dokter biasanya membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti tes urin untuk memeriksa fungsi kerja ginjal, pemindaian dada menggunakan sinar-X atau metode pencitraan lain untuk memeriksa paru-paru, dan tes-tes lain untuk mengukur volume paru-paru. Dokter juga akan meminta tes darah lanjutan untuk memeriksa jumlah sel darah seseorang dan memeriksa kadar sodium, kalium, bicarbonate, dan glukosa darah atau biasa disebut dengan gula darah.

Hasil tidak normal dari analisa gas darah dapat mengindikasikan bahwa kondisi kesehatan seseorang ataupun cidera mempengaruhi pernapasan seseorang. Saat membuat diagnosa, dokter akan mempertimbangkan hasil dari analisa gas darah dan tes lain dengan kesehatan seseorang secara keseluruhan. Hasil dari analisa gas darah dapat menunjukkan apakah paru-paru mendapatkan cukup oksigen atau tidak, apakah paru-paru mampu mengeluarkan karbondioksida atau tidak, dan apakah ginjal dapat bekerja dengan baik atau tidak. Usia, riwayat kesehatan, dan jenis kelamin memengaruhi hasil dari analisa gas darah. Hasil yang keluar dari angka yang normal belum tentu mengindikasikan adanya gangguan penyakit jantung, paru-paru, ataupun ginjal.

Timbangan Badan Digital Pengukur Lemak Apakah Akurat?

Apabila Anda rajin berolahraga, makan makanan yang sehat, namun tetap menunjukkan adanya tanda-tanda berkurangnya berat badan di timbangan badan digital Anda, mungkin yang menjadi masalah sebenarnya adalah persentase lemak tubuh Anda. Saat Anda mencoba menurunkan berat badan, mengukur lemak tubuh sama pentingnya dengan mengukur berat badan secara keseluruhan. Hal ini karena kebiasaan yang sehat, seperti olahraga, dapat membentuk otot. Meningkatnya masa otot di tubuh dapat membuat angka di timbangan badan digital tetap di posisi yang sama, atau bahkan di dalam beberapa kasus tertentu, bertambah, meskipun setelah Anda mulai kehilangan lemak dan tubuh mulai berotot.

Salah satu cara yang terbaik untuk memantau kemajuan Anda dalam menurunkan berat badan adalah dengan menggunakan timbangan badan digital yang mampu mengukur masa lemak di tubuh. Meskipun hal ini bukan satu-satunya cara dalam menentukan berat badan yang sehat, mengukur lemak tubuh dapat menentukan apakah upaya Anda dalam menurunkan berat badan benar-benar berhasil. Apabila Anda tidak mencoba menurunkan berat badan, timbangan badan digital dengan pengukur lemak juga akan menunjukkan informasi apakah Anda memiliki rasio lemak dan otot yang sehat. Namun tentunya, timbangan badan digital yang dapat mengukur lemak tidak selamanya tanpa cela. Namun, alat ini merupakan salah satu dari pilihan lain selain mengunjungi dokter atau PT (personal trainer) Anda untuk mengukur lemak tubuh.

Bagaimana timbangan tersebut bekerja?

Timbangan badan digital untuk mengukur lemak biasanya mudah digunakan.  Anda hanya perlu naik ke atas timbangan dan alat akan otomatis mengukur berat badan dan perkiraan persentase lemak Anda. Timbangan badan digital jenis ini bekerja dengan bantuan sensor di bawah kaki yang menggunakan impedansi bioelektrik. Saat Anda menginjak timbangan, arus listrik akan mengalir melalui kaki dan melintasi panggul dan mengukur jumlah resistensi lemak tubuh. Kemudian, sensor yang ada di timbangan akan mengukur kadar resistensi tersebut saat arus listrik kembali melalui kaki. Resistensi tubuh yang diterima berarti semakin tinggi persentase lemak yang Anda miliki. Hal ini disebabkan karena lemak mengandung air yang lebih sedikit dibandingkan dengan otot. Sehingga karena lemak lebih padat dibandingkan otot, arus listrik kesulitan dalam menembus lapisan lemak. Tergantung tipe timbangan badan digital yang Anda punya, informasi yang didapatkan dapat dihubungkan dengan smartphone, smartwatch, ataupun aplikasi kebugaran tubuh yang Anda miliki.

Seberapa akurat timbangan jenis ini?

Pada umumnya, timbangan lemak badan hanya dapat menyediakan perkiraan kasar. Meskipun aman digunakan, ada banyak variable yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Beberapa faktor tersebut adalah jenis kelamin (wanita secara alami memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan dengan pria), letak lemak tersimpan di tubuh Anda, kehamilan (timbangan jenis ini tidak direkomendasikan digunakan oleh ibu hamil), umur (timbangan ini tidak cocok untuk anak), serta tinggi dan postur tubuh Anda.

Manfaat terbaik menggunakan timbangan badan digital pengukur lemak adalah Anda dapat mengukur lemak tubuh di rumah, tanpa harus mengunjungi gym ataupun klinik. Namun, timbangan jenis ini tidak benar-benar akurat. Jangan menggunakan timbangan tersebut sebagai satu-satunya alat ukur kesehatan keseluruhan Anda. Kekurangannya adalah timbangan badan digital pengukur lemak tidak dapat menunjukkan lokasi lemak tersebut berada. Dokter biasanya akan tahu dan khawatir terhadap lemak yang menumpuk di bagian tengah tubuh karena dapat meningkatkan risiko penyakit seperti penyakit jantung. Dan timbangan badan digital pengukur lemak hanya menunjukkan persentase lemak, bukan lokasi lemak berpotensi berbahaya tersebut berada.

Rhinitis, Gangguan Indera Penciuman yang Mengganggu Kehidupan Anak

Apakah Anda pernah menemukan masalah pada indera penciuman anak Anda, biasanya ditandai seperti gejala flu, tetapi tak kunjung sembuh walau sudah diberikan obat? Ya, mungkin anak Anda terserang rhinitis.

Rhinitis adalah kondisi di mana terjadi peradangan di dalam rongga hidung. Siapa saja bisa mengalami, termasuk anak-anak. Jika benar, Anda harus waspada. Karena selain mengganggu aktivitas si kecil, bila anak sudah terserang rhinitis, biasanya dia akan semakin mudah terkena serangan serupa hingga usia dewasa.

Hal ini diketahui melalui data statistik yang dilansir American Academy of Allergy, Asthma & Immunology, “Rhinitis alergi yang timbul pada masa anak-anak biasanya menetap sampai usia dewasa, dan akan berkurang pada usia lanjut. Sekitar 15-25% penderita akan sembuh secara spontan setelah 5-7 tahun,” kata laporan tertulis itu.

Sebenarnya rhinitis dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, yakni rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi. Akan tetapi di lapangan, penyebab yang paling lazim adalah lantaran dipicu oleh alergen. Kira-kira perbedaannya dapat dipetakan seperti berikut:

  • Rhinitis alergi

Rhinitis alergi atau yang sering disebut dengan hay fever disebabkan oleh respons alergi terhadap alergen seperti serbuk sari, tungau, debu, air liur hewan peliharaan, bulu binatang peliharaan, dan lainnya. Rhinitis alergi terjadi akibat sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi zat tersebut sebagai zat asing sehingga menyebabkan peradangan pada lapisan hidung, yang meningkatkan sensitivitas saluran pernapasan.

  • Rhinitis nonalergi

Sedangkan rhinitis nonalergi disebabkan oleh mencakup bau tertentu di udara, perubahan cuaca, beberapa obat, makanan tertentu, dan kondisi kesehatan kronis. Rhinitis nonalergi dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa, tetapi lebih sering terjadi setelah usia 20 tahun.

Meski gejala yang ditampakkan anak-anak bisa berbeda-beda setelah terpapar alergen, tetapi umumnya mereka akan mengalami kondisi seperti:

  • Hidung berair atau tersumbat.
  • Bersin-bersin.
  • Mata yang gatal atau berair.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.

Kondisi-kondisi di atas memang akan sembuh dengan sendirinya dan cenderung dapat ditangani. Namun, ada beberapa kasus di mana keadaan itu tak kunjung membaik dan terus-menerus hinggap di tubuh anak Anda.

Situasi ini biasa disebut gejala parennial, dan gejala awal tadi terus berkembang. Beberapa anak-anak dapat menderita sinusitis, di mana rongga di tengkorak dekat dengan tulang pipi dan alis mata dipenuhi oleh cairan yang menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bahkan terkadang menyebabkan infeksi.

Anak kecil bisa berisiko mengembangkan telinga yang lengket (glue ear) sebagai komplikasi sinusitis karena tabung yang menghubungkan ke tenggorokan dan telinga berada di dekat tenggorokan yang tersumbat. Ini bisa juga menyebabkan gangguan pendengaran sementara.

Belum lagi pendarahan di hidung di mana itu merupakan gejala yang umum dari rhinitis alergi. Karena selaput hidung terasa gatal dan sering digosok atau tergoress.

Di sini kepekaan dan perhatian Anda amat dibutuhkan. Jangan ragu untuk segera memeriksakan anak Anda ke dokter jika:

  • Mengalami gejala-gejala yang terasa sangat mengganggu dan tidak kunjung membaik.
  • Obat alergi yang diminum tidak efektif atau justru memicu efek samping yang mengganggu.
  • Memiliki penyakit lain yang bisa memperparah rhinitis alergi, misalnya sinusitis, asma, atau polip dalam rongga hidung.

Jika situasinya akan bergulir ke arah yang mengkhawatirkan tersebut, sebaiknya Anda mulai melakukan tindakan preventif untuk menghindari kemungkinan anak terserang rhinitis. Pencegahan bisa Anda mulai dengan mulai menyingkirkan hal-hal yang memicu alergi. Contohnya jika mengalami alergi terhadap debu, maka bersihkan rumah secara teratur, terutama ruangan yang sering digunakan.

Selain itu, beberapa aktivitas ini juga dapat Anda lakukan sebagai upaya menghindari anak, juga keluarga dari ancaman rhinitis tersebut, di antaranya:

  • Membersihkan air conditioner (AC) setiap 2-3 bulan sekali.
  • Gantilah seprai, kelambu, dan gorden setiap 1 minggu sekali.
  • Jemur tempat tidur 1 minggu sekali.
  • Hindari penggunaan karpet, kapuk, dan boneka bulu.
  • Anjurkan anak untuk lebih banyak bermain di luar kamar, karena jumlah tungau debu rumah paling banyak terdapat di kamar tidur.

Kira-kira itulah beberapa hal yang dapat disajikan mengenai rhinitis pada anak. Jangan pernah biarkan si kecil dan seluruh anggota keluarga terserang gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Pasalnya, lingkungan yang kotor merupakan sumber dari berbagai macam penyakit, tak hanya rhinitis, penyakit-penyakit lain pun dapat bermula dari lingkungan yang tidak bersih.

Waspada Penyebaran Virus Corona, Lakukan Langkah-Langkah Ini

Anda tentu tahu, saat ini kita tengah dihantam wabah virus corona. Kepanikan terjadi di mana-mana karena pengetahuan tentang virus ini masih sangat minim. Untuk dapat menghindarinya, kita semua perlu membekali diri dengan wawasan yang benar terkait virus tersebut.

Mengenal virus corona

Virus corona merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi hewan dan dapat pula menyebar ke manusia. Di dalam kelompok ini, terdapat Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-COV) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS-COV). Jenis virus yang paling baru dari kelompok ini adalah SARS-CoV-2 yang tengah mewabah saat ini.

SARS-CoV-2 merupakan jenis virus corona ketujuh yang menginfeksi manusia. Dampaknya, timbul penyakit COVID-19. Karena ini merupakan virus baru, maka hal-hal yang sekarang diketahui terkait virus ini sangat mungkin berubah.

Informasi sementara, masa inkubasi dari SARS-CoV-2 berlangsung antara 2-14 hari. Artinya, dibutuhkan waktu 2-14 hari sejak seseorang pertama kali tertular sampai muncul gejala.

Infeksi pertama kali memang ditemukan di Wuhan, China, tapi kini telah dinyatakan sebagai pandemi. Sebab sudah tersebar hampir di seluruh dunia.

Berdasarkan informasi yang disediakan oleh WHO, cara penularan SARS-CoV-2 belum diketahui secara pasti. Namun, secara umum virus dapat menyebar melalui tetesan ludah halus penderita ketika berbicara, batuk, atau bersin.

Tetesan ludah halus tersebut dapat masuk langsung ke hidung atau mulut orang sehat dan menyebabkannya terinfeksi. Selain itu, tetesan ludah halus penderita juga dapat menempel pada permukaan benda. Maka, disarankan untuk sesering mungkin membersihkan permukaan benda yang memiliki kontak dengan orang sakit. Sebab ketahanan virus ini belum diketahui, maka waspada merupakan jalan satu-satunya.

Lakukan langkah ini untuk mencegah penyebaran virus corona

Pasien yang tertular SARS-CoV-2 atau lebih lazim disebut virus corona, menunjukkan gejala-gejala ringan hingga berat. Beberapa tanda yang muncul diantaranya demam, batuk, kesulitan bernapas atau napas menjadi pendek. Pada kondisi yang lebih parah, dapat terjadi pneumoniae, gagal ginjal, hingga kematian. Beberapa yang tertular virus ini juga tidak menunjukkan gejala sama sekali, namun tetap dapat menularkannya kepada orang lain.

Sementara ini belum ada pengobatan maupun vaksin untuk virus ini. Semua masih dalam tahap penelitian. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Mencegah agar tidak tertular atau meminimalisasi penyebaran virus tersebut. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan.

1. Tinggal di rumah saja

Tinggal di rumah saja atau self isolation merupakan tindakan nyata dari social distancing atau pembatasan sosial. Langkah pembatasan sosial diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Jadi, bila tidak penting dan mendesak, sebaiknya Anda tidak keluar rumah untuk sementara waktu.

2. Rutin mencuci tangan

Disarankan untuk mencuci tangan Anda dengan air mengalir dan sabun secara rutin, bahkan lebih sering dari biasanya. Bila hal ini tidak memungkinkan, Anda boleh menggunakan hand sanitizer.

Cairan antiseptik atau hand sanitizer yang digunakan harus mengandung alkohol minimal 60%. Kadar alkohol yang dianggap efektif untuk mencegah infeksi adalah antara 60%-71%.

3. Menjaga jarak

Saat Anda terpaksa sekali harus keluar rumah, jagalah jarak dengan orang lain. Terutama mereka yang tengah batuk atau bersin. Jagalah jarak aman paling tidak 1 meter. Sebab droplet atau tetesan ludah paling jauh dapat tersembur sejauh 1 meter.

4. Hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut

Sebisa mungkin tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut, sebab tangan Anda mungkin saja sudah terkontaminasi virus corona yang menempel pada permukaan benda. Bagian tubuh, seperti mata atau hidung, memiliki membran mukosa yang dapat menjadi jalan masuk virus.

Jika Anda telah berusaha melakukan swakarantina di rumah, menjaga kebersihan, serta pola hidup agar sistem kekebalan tubuh tetap baik, namun Anda merasakan demam dan kesulitan bernapas, atau gejala lain yang Anda duga sebagai tanda infeksi virus corona, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Anda dapat menghubungi 119 bila dibutuhkan. Nomor tersebut merupakan hotline khusus untuk pengaduan COVID-19 yang disediakan oleh Kemenkes RI.